29. First Attack

28.1K 3.6K 910
                                        

•Happy Reading•

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Happy Reading•

"We need talk, Ines."

"Nggak ada yang perlu kita omongin," sahut Ines jutek.

"Ada..." hito melepas seatbelt, merubah posisi duduknya menyamping menghadap Ines, tangan kanannya masih bertengger manis di atas stir, sebelahnya lagi sikunya bertumpuh pada sandaran jok.

"Dulu kamu sendiri yang bilang hubungan kita udah selesai. Selesai bukan berarti kita nggak bisa kembali berteman, kan? Awal ketemu kayaknya semua okay, nggak ada masalah, tapi kenapa tiba-tiba menghindar?"

Ines menangkap jelas raut ketersinggungan dan tak habis pikir dari wajah Hito atas apa yang ia lakukan pada lelaki itu. Mengabaikan dan menjaga jarak secara terang-terangan.

Siapapun yang diperlakukan seperti itu, pasti akan tidak terima dan meminta penjelasan.

Ines mengerjab, dengan gerakan sangat hati-hati ia lepas seatbelt yang membelenggu bagian atas tubuhnya, menggeser duduknya menyudut pada pintu mobil.

"Segitu risihnya deket aku?"

"Eh?" Ines menggeleng. Dari tempatnya duduk, meskipun remang minim cahaya, ia masih bisa melihat wajah serius lelaki itu.

Hidungnya yang tinggi, alisnya yang lebat hampir menyatu memberi kesan tegas, serta jakunnya yang bergerak samar membuat mata Ines susah teralihkan.

Belum lagi, suaranya yang dalam dan serak, perpaduan yang sangat sexy hingga memberi efek menggelitik pada perut Ines.

Sial, setiap dekat Hito rasanya percikan gairah selalu datang menerjang kepolosan Ines yang susah payah dibangunnya empat tahun ini.

"Bukan gitu!" bantah Ines cepat.

Hito nampak lebih relaks dari sebelumnya, tak sedikitpun terpancar rasa kesal atau tidak sabaran menghadapi sifat Ines.

"Atau ... kamu belum bisa move on dari hubungan kita dimasalalu sampai kamu nunjukin sifat antisipasi kamu ke aku?" Hito menyeringai mengejek.

Masih tampan sih, tapi sangat menyebalkan dalam situasi seperti ini.

Cium aja kali, ya? Biar tuh mulut anteng.

Ck, keenakan dianya dong!

Ines segera mengenyahkan ribut-ribut dalam pikirannya. Memutar bola matanya dan mendengkus kuat-kuat. "Buat apa move on kalo dari awal sama sekali nggak ada rasa."

"Mungkin di awal emang nggak, tapi bisa jadi 'kan di pertengahan atau akhir?" sahut Hito sambil mengedikan bahunya tak acuh.

"So ... what the point are you trying to prove, To?" Ines membasahi bibirnya yang terasa kering. "Mau ada apa nggak, itu semua udah berlalu. Hidup maju terus napa masih aja, sih, bahas masalalu."

Fight for HappinessCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang