20. Mantan vs FWB

29.6K 3.3K 640
                                        

•Happy Reading•

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Happy Reading•

M

endapati Ines tidak berada di unit apartemennya, Hito memutuskan menunggu di ujung luar lobi. Berdiri bersandar pada bangunan gedung yang tidak tersorot lampu.

Ingin memastikan, siapa yang mengantarkan Ines. Bisa-bisanya hingga tengah malam belum juga kembali.

Merogoh ponselnya dari saku celana Hito mencoba membuka kontak. Termenung bingung harus menghubungi siapa? Sebab satu-satunya teman Ines yang ia kenal hanya Dilla, dan kemungkinannya sangat kecil Dilla tahu info keberadaan Ines.

"Sial!" makinya menggeram.

Baru menyadari dampak buruk dari tabiat keduanya yang terbiasa saling bergantung, tanpa melibatkan orang lain.

Ryan, Bian dan Dilla layaknya figuran dalam hubungan mereka.

Hito mengeluarkankan bungkus rokok beserta pematik api dari saku jaketnya, tatapannya tetap mengarah pada pintu lobi apartemen.

Beberapa asumsi acak menggema dalam otaknya, satu alasan positif coba Hito simpulkan guna mengungkung rasa kesalnya.

Mungkin perempuan itu bersenang-senang dengan temannya di hari ulang tahunnya, wajar. Hito harus memaklumi, karena ia juga bersalah akan ketidakjujurannya atas keberadaannya.

Batang rokok yang dikeluarkan, kini hanya terjepit di antara bibirnya begitu sosok yang ditunggunya turun dari mobil—lalu pandangan matanya mengarah pada pria yang dalam ingatannya belum pernah ia temui, tapi sepertinya ia tahu.

"Brengsek!" Membuang rokonya kasar. Langkah kaki Hito mendatangi tanpa ragu.

Semakin dekat, semakin ia dapat mendengar percakapn keduanya. Pria yang lebih pendek darinya itu menawarkan bantuan untuk membawa cake sampai unit Ines.

"Mau modus, lo?!" Senyum Hito tercetak licik.

Menyentak keras tangan yang bertengger manis pada bahu Ines. Ia tidak bisa menerima miliknya disentuh orang lain.

"Nggak usah. Udah ada gue," ucap Hito kemudian engambil alih barang bawaan Ines, dan menaruhnya dalam satu genggaman tangan.

Netranya menilai penampilan Andra secara terang-terangan dari atas sampai bawah. Lalu mendengkus, tahu jelas bagaimana keagresifan Andra dibalik topeng alimnya.

"Terimakasih, dan anda bisa segera kembali." Suara bariton Hito terdengar ketus, mengusir. Tangannya melingkari pinggang ramping Ines, ia bisa merasakan tubuh perempuan ini menegang.

"Kita permisi." Hito sama sekali tidak memberi kesempatan Andra untuk berucap. Tanpa menunggu jawaban, ia menggiring Ines masuk ke dalam gedung apartemen.

Ines sendiri bagai kerbau yang di cucuk hidungnya, hanya bisa diam menurut kala Hito membawanya. Mencoba menoleh ke belakang, membalas tatapan penuh tanya Andra dengan raut muka tak enak hati dan senyum kaku.

Fight for HappinessCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang