Ines kira pertemuannya dengan Hito hanya sebatas one night stand kala itu. Namun, ternyata Hito kembali menghubunginya, hingga pertemuan demi pertemuan membuat keduanya kian dekat dan terlibat dalam hubungan friend with benefits.
Lalu, bagaimana jik...
Buat readers lama yang baca chapter ini, aku mau ajak kalian bermain peran nih.. Untuk; Pura-pura shock ✔ Pura-pura kepo✔ Dan pura-pura polos✔
Yang berarti, dimohon dengan sangat untuk tidak spoiler.
Terimakasih 💋
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
•Happy Reading•
Panggilan telepon mereka sudah berganti menjadi vidiocall semenjak Ines meminta ijin untuk keluar bersama teman-teman PKLnya.
Keseringan menolak membuatnya sungkan sendiri. Sesekali ikut bergabung seharusnya tidak menjadi masalah. Toh, Hito juga sedang tidak berada di Jogja.
Ines duduk bersandar pada punggung kasur dengan ponsel di tangannya, menyorot lebih dekat wajahnya sesuai permintaan Hito, mungkin agar lelaki itu bisa lebih membaca ekspresinya.
"Emang mau kemana sih?"
"Ke Cafe Alertes, sekitaran jalan Monjali."
"Sama siapa aja?"
"Anak- anak PKL, Hito."
"Iya, aku tahu, Sayang. Nama mereka maksudnya?"
Hito menatapnya lurus, alisnya sedikit menukik ke bawah. Tangannya bersedekap di dada, nampak sudah mempersiapkan segala larangan dan ceramah panjangnya bila Ines membenarkan pertanyaannya selanjutnya. "Ada cowoknya?"
"Iya, ada," terang Ines, membasahi bibirnya yang terasa kering. " Yang ngajak itu Desy, temen aku satu jurusan dan sekelas juga. Yang fix ikut belum tahu siapa aja. Ramean kok pastinya... bukan cuma dari jurusan aku, kayak gabungan gitu lho, siapa aja yang lagi free dan mau join ya ngumpul.
"Jangan digigit kayak gitu, biar aku aja yang gigit kalau kita udah ketemu," ujar Hito.
Jari Hito yang diakui Ines kesexyannya, dan sering memberi siksaan kenikmatan saat menjelajah tubuhnya itu mengetuk-ngetuk layar ponsel.
"Sayang, pulang jam berapa?" Hito mengulang pertanyaannya, nadanya kian mendesak.
"Nggak sampai jam sembilan udah di kosan," jawab Ines berusaha meyakinkan. "Boleh, ya," rayunya manja.
"Nanti pergi sama aku aja, ya, Sayang?" bujuk Hito melembut. "Dari tadi kamu udah bersin delapan kali, padahal durasi telepon kita belum ada sepuluh menit."