Ines kira pertemuannya dengan Hito hanya sebatas one night stand kala itu. Namun, ternyata Hito kembali menghubunginya, hingga pertemuan demi pertemuan membuat keduanya kian dekat dan terlibat dalam hubungan friend with benefits.
Lalu, bagaimana jik...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
•HappyReading•
Sebelum masuk ke ruang operasi Ines berpesan pada Hito untuk menghubungi keluarganya. Tanpa pikir panjang Hito langsung mengiyakan.
Hito mendapatkan kesempatannya lagi. Bisa mengenalkan diri dan mengenal orangtua Ines, pikirnya.
Ia berdehem sesaat, sebelum menaruh ponsel Ines di telinganya. Telepon pertama, kedua, ketiga dan kesekian kalinya masih belum ada jawaban dari ujung sana.
Hito tidak menyerah, ia tetap menelepon nomor ayah Ines untuk kelima belas kalinya. Hito akan meneror nomor itu sampai tersambung.
Bagaimanapun juga, orangtua Ines patut tahu kabar putrinya. Dan Ines sebagai seorang anak pasti ingin lebih diperhatikan oleh keluarganya. Hito mengerti perasaan itu, karena ia juga selalu mencari, sampai mengigaukan Belinda disaat sedang sakit.
Ayah. Kenapa? Ayah lagi kerja.
Hito membacanya pesan itu, kemudian ia berusaha menelepon nomor Jatmiko lagi, dan lagi.
Ayah. Nanti saja nunggu ayah pulang kerja.
Dahi Hito menyerngit. Kesan pertama yang ia tangkap dari pesan singkat itu adalah terlalu formal untuk ukuran ayah dan anak. Atau memang Jatmiko orang yang kaku lantas Ines menjadi segan?!
Tapi jika seorang anak menelepon terus-menerus, bukankah seharusnya sebagai orangtua sadar ada yang tidak beres?
Ines. Selamat siang, om. Bisa kita ngobrol sebentar tentang Ines?
Ayah. Kamu temannya? Penting sekali? Harus sekarang? Saya sedang bekerja
Ini sebenarnya Jatmiko yang menolak ingin tahu atau ia sendiri yang terlalu berputar-putar tidak langsung to the point. Tapi memberi kabar lewat pesan, rasanya kurang baik.
Hito menekan icon telepon pada layar pojok kanan isi percakapan mereka. Hingga dering keenam Jatmiko baru mengangkatnya.
"Siang, Om, saya Hito." Ia kembali memperkenalkan diri berusaha penuh percaya diri.
"Ya?" Suara khas bapak-bapak menyahuti dari seberang panggilan.
"Saya mau ngasih kabar, kalau Ines sekarang sedang menjalani operasi karena peradangan usus buntu."
"Lalu bagaimana?"
"Semoga semua baik-baik saja. Dokter di sini juga pasti berusaha sangat keras."
"Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan, bukan?"
Seringan itukah? Namun Hito tetap mengangguk meski tahu Jatmiko tidak dapat melihatnya. "Jadi... Kira-kira kapan Om bisa datang ke sini?"
"Untuk apa?"
"Ya?" tanya Hito linglung.
"Untuk apa saya ke sana?" Jatmiko mengulang pertanyaannya kembali.