38. Smoothy

16K 2.1K 188
                                        

•Happy Reading•

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.





•Happy Reading•

Reno harus mengeraskan dehemannya, meminta aksistensi Ines dan Hito yang malah terlihat asyik bermesraan berdua. Menyadari itu, Ines meringis sungkan, dimasukkannya kembali ponselnya ke dalam sling bag.

Hito menarik setengah bibirnya penuh kemenangan atas itu juga. Ia pastikan, akan menggeser peran Andra dalam hidup Ines secara cepat. Memperlihatkan kesungguhannya untuk memiliki Ines.

Setelah semua kembali kondusif, Reno kembali bersuara, mengatakan, "Ya sudah, udah terjadi. Kalian juga udah dewasa, nggak ada yang perlu diributin lagi. Tinggal atur tanggal nikahnya, atau mau tunangan dulu?"

"Langsung nikah aja, Pa. Besok ya? Kan makin cepet, makin bagus," sela Hito cepat.

"Kenapa? Keburu malu kalau kandungannya makin membesar?" Todong Reno, kemudian ia berdecak. "Udah tau kalau bakal gitu, ngapain buat kalau nggak sanggup nerima resikonya."

"Kamu nyindir anak aku, Ren?" tanya William dengan ekspresi dongkol.

Reno tertawa, pria yang memasuki usia pertengahan lima puluh tahun itu merilekskan duduknya. "Bedalah... Auxy sama Zacky udah tunangan, jelaslah tujuannya kemana. Kalau mereka berdua." Reno menunjuk Ines dan Hito menggunakan dagunya. "Baru juga pacaran."

Ines menelan kedua ludahnya susah payah, ia memilin tangannya yang berkeringat dingin. Meskipun tak ada pikiran untuk kembali pada Hito, tapi tidak seharusnya juga kan diperkenalan pertama namanya sudah sejelek ini?

"Nggak, Pa, aku bukan malu." Hito membuka perlahan kepalan tangan Ines, di elusnya lembut. "Akunya aja yang udah nggak sabar atas kepemilikan Ines, jadiin Ines punyaku, istriku."

Ines menatap Hito horor, geli banget dengernya. Ia tak menyangka, Hito akan setotalitas itu dalam melakukan perannya.

Mata Belinda memincing curiga mendapati gerak-gerik Ines yang gelisah. "Sini, Ines!" ia melambaikan tangan dan menepuk sofa kosong di sampingnya, menyuruh Ines mendekat.

Ines menatap Hito bertanya, mereka seakan berkomunikasi lewat pandangan mata, tanpa suara.

"Nggak apa-apa, sana!" ucap Hito meyakinkan Ines. Dengan berat hati ia lepas tangan Ines dari genggamannya.

Ines menarik napas dalam dan menghembuskannya bersamaan dengan resahnya. Menyiapkan diri atas apapun yang akan terjadi. Menerima kemarahan atau makian Belinda misalnya.

Dalam kondisi seperti ini, biasanya kan pihak wanita yang banyak dipojokan oleh keluarga laki-laki. Salah si wanita yang tidak bisa menjaga diri, menuduh si wanita sebagai penggoda anaknya.

"Saya Ines, Tante," ucapnya memperkenalkan diri sembari memberi salam setelah ia mendaratkan bokongnya pada sofa.

"Kok, tante? Mama dong." Belinda melebarkan kedua tangannya, menyambut Ines masuk ke dalam peluknya.

Fight for HappinessCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang