40. Tuduhan Atau Kebenaran

24.6K 3.5K 700
                                        

•HappyReading•

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

•HappyReading•

Ines mendesah, menyadari dirinya tidak mempunyai perlawanan apapun untuk menyingkirkan atau sekedar menghindari Hito di hari-hari berikutnya. Lelaki itu sangat percaya diri dan tidak memedulikan penolakan Ines. Ditambah lagi, Hito selalu bersembunyi di balik nama sang Mama yang membuat Ines semakin tidak dapat berkutik.

"Capek banget, ya?" tanya Hito.

Entah saking lelahnya atau memang mulai terbiasa dengan sentuhan-sentuhan kecil yang Hito berikan, mata Ines terpejam menikmati tangan Hito yang mengelus pelan kepalanya.

Hito meringis. "Kamu harus mulai terbiasa." Mau bagaimana lagi, Belinda hanya memiliki 3 anak laki-laki, jadi begitu anaknya mendapat pasangan, mamanya itu selalu antusias dan sering kali menyingkirkan anaknya sendiri demi bersenang-senang dengan menantunya.

"Nggak mau, nggak mau nikah sama kamu pokoknya!" Rengek Ines.

"Iya, nggak sekarang. Nanti....," jawab Hito dengan nada geli, ia terkekeh saat mendapati Ines memberenggut padanya. "Emang tadi di ajak mama kemana aja?"

"Keliling Mall, cari keperluan buat lahirannya Auxy." Ines memijat bahunya yang terasa kaku, beberapa hari kebelakang, ia tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri. Belinda selalu mengajaknya kesana dan kemari selepas ia pulang bekerja. Lalu pada malam hari, Hito yang masih menumpang padanya selalu merecokinya.

Hito tersenyum. "Nanti aku bilang Mama kalau besok waktunya kamu sama aku, jadi kamu bisa istirahat sepuasnya."

"Kamu juga nggak bakal ganggu, kan?"

Hito mengacak surai hitam Ines, lalu menarik tangannya, beranjak berdiri untuk mengambil ponselnya yang ada di atas meja dapur. "Nggak kok."

Ia tersenyum simpul."Kan aku juga mau istirahat bareng kamu."

Ines yang sedang berbaring di atas tempat tidur spontan mencak-mencak, kakinya menendang hingga selimut yang membungkus tubuhnya menjadi berantakan. Kehidupan beratnya sepertinya masih panjang.

Hito tergelak. Ia kembali merangkak naik ke atas tempat tidur dan membawa Ines ke dalam pelukannya. "Udah, nikmatin aja. Terima aja, emang jalannya udah kayak gitu," ujarnya berusaha menghibur yang mengarah pada ejekan pada Ines.

Well, termaksud kemajuan yang sangat besar ia bisa berada dalam situasi seperti sekarang.

Pada malam pertama ia menumpang di sini, Ines membolehkannya asal ia tidur di sofa. Hito mengiyakanya saja, lalu pada tengah malam ia merengek badannya sakit semua, Ines yang terpaksa meskipun sebenarnya tega-tega saja akhirnya mengijinkannya tidur di satu kasur yang sama.

Namanya juga manusia, dikasih hati mintanya jantung. Tentu saja, Hito melakukan modus-modus lainnya. Dan ia juga berbangga diri, merasa berhasil dapat membuat Ines mengabaikan segala pesan dan telepon dari Andra.

Fight for HappinessCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang