Ines kira pertemuannya dengan Hito hanya sebatas one night stand kala itu. Namun, ternyata Hito kembali menghubunginya, hingga pertemuan demi pertemuan membuat keduanya kian dekat dan terlibat dalam hubungan friend with benefits.
Lalu, bagaimana jik...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tidak semua orang nyaman bersosial media, dan aku merasa cukup dengan lingkup yang sekarang — Hito.
Happy Reading
Selesai bimbingan di ruang dosen, Hito berjalan menuju kantin, tempat Bian dan Rayn menunggunya. Tahun ini ia sudah menjadi mahasiswa tingkat akhir.
"Nih, dia nih bocahnya." Bian berdecak kesal degan gaya kemayu. Pasalnya selama Hito bersenang-senang di Solo, dirinya dan Rayn harus menghadapi teror dari Auxy.
"Bener-bener kampret lo, ya. Lo enak-enakan sama Ines, gue sama Bian yang nggak tenang," Rayn ikut sewot.
"Harusnya kemaren kita buka aja semua kartunya," ancam Bian, kesal akan respon Hito yang hanya menanggapi protes mereka dengan kekehan kecil.
"Bilang sana, gue malah berterimakasih. Asal lo tetep tutupin identitas Ines aja," jawab Hito santai. Mengeluarkan satu bungkus rokok dan korek api dari dalam saku celananya.
"Waaaah ... nantangin dia, Yan," seru Bian.
Rayn yang duduk di depan Hito terhalang meja kantin, mencondongkan tubuhnya ke depan dan menurunkan nada suaranya. "Lo beneran suka sama Ines?"
"Suka," jawab Hito tak sungkan. Keduanya adalah teman dekatnya semasa SMA hingga sekarang, sudah terbiasa saling terbuka.
Rayn menggelengkan kepala, mengira selama ini Hito hanya main-main. "Sorry, sorry nih, ya ... What's up man? Ines kan cuma ... SPG."
Bian tak setuju, karena kita tidak bisa memandang seseorang sebelah mata hanya karena pekerjaannya. "Jangan main ngerendahin gitu dong, Cint!"
"Iya, iya, kan udah gue bilang sorry tadi," ucap Rayn sekenanya.
"Lo tanya gue suka nggak 'kan sama dia? Gue jawab, gue suka terlepas dari apapun kerjaan dia. Kelar!" Hito menghembuskan asap rokoknya ke udara.
She just works, selling cigarettes not her body.
Lebih dari enam bulan mereka dekat, Hito mengenal bagaimana watak Ines. Berkepribadian santai, namun tetap mempunyai prinsip yang kuat.
"Suka itu cuma ketertarikan, bukan rasa," Bian menimpali.
Rayn mengangguk setuju, tapi ada banyak hal yang mengganjal di otaknya. "Oke, oke, kita jabarin satu-satu. Lo sadar nggak? Kalo lo lebih condong ke Ines dari pada Auxy? Lo anter jemput dia, Jogja-Solo itu lumayan, Men. Mobil lo kasih pegang ke dia, lo nya malah naik motor. Duit lo bagi-bagi. Masih ada nggak tuh duit bulanan lo?"
"Dimana-mana jadi yang kedua emang lebih istimewa ye," Saut Bian.
"She is mine, jadi nggak ada masalah gue lakuin itu semua buat dia," jawab Hito cepat.
"Mine? Mendoan kali'ah!" Ulang Bian lalu terbahak, merasa lucu dengan ucapan Hito selayaknya orang bucin pada umumnya. "Emang kalian beneran resmi? Jadian? Ines yang minta kejelasan status sama lo?"