18. Begitulah Akibatnya

25K 3.1K 215
                                        

•Happy Reading•

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

•Happy Reading•

Berawal dari gosip ia adalah orang ketiga, ada juga yang berasumsi ia hanya korban karena tak mengetahui jika laki-laki itu berstatus pacar orang. Semua seakan berlomba-lomba mencari fakta tentangnya.

Dari mulut ke mulut, kebenaran bercampur dengan kebohongan, seakan semua keburukan Ines naik kepermukaan, menjadi santapan segar bagi orang-orang yang tidak menyukainya dan seorang penggosip.

Mungkin Ines bisa sedikit bernapas lega, karena Auxy tidak benar-benar menyebarkan rekaman vidio ketika melabraknya kepada para pengikut media sosialnya.

Entah karena Auxy memikirkan perkataannya kemaren atau memang ada alasan lain yang melatar belakangi. Yang jelas, kejadian kemaren sangat berdampak pada lingkungan praktek dan kampusnya.

Ines mengurungkan niatnya membuka pintu,  ia bersandar pada sisi tembok mendengarkan suara cemooh dari pemagang lainnya.

"Pada ketipu semua, kan? Dari awal aku udah feeling kalau ada yang nggak bener dari Ines. Eh, kejadian beneran, kan?"

"Jualan rokok bisa jadi cuma alibi, aslinya jual badan."

"Jadi selingkuhan juga dia mau, kebukti murahnya. Udah biasa sama perut buncit terus botak plontos juga kayaknya. Lihat aja tuh barang-barang sama gayanya."

"Gaya elit, ekonomi sulit," sahut suara lainnya, kemudian disusul tawa terbahak-bahak dari mereka yang asyik bergunjing selagi mengambil barang-barangnya pada loker yang tersedia di ruangan khusus pekerja.

Ines bukan malu mengakui pekerjaannya, sengaja menutupinya karena merasa risih akan pandangan orang-orang yang seakan ngejudge buruk seorang SPG.

Dirinya juga masih cukup waras untuk tidak melempar tubuhnya pada pria tua. Pemuda kaya dan tampan masih bisa ia dapatkan, seperti Hito, sang sugar friendnya.

Lucu ya, emang orang kurang mampu sepertinya tidak diperbolehkan mengenakan barang bagus? Harus compang-camping, gitu? Padahal membeli baju tak semahal membeli rumah.

Ines tak pernah membuat pengakuan berasal dari keluarga berada, mereka sendiri yang menilainya seperti itu, hanya karena penampilan luarnya dan pembawaannya.

Ines memejamkan matanya demi menenangkan diri. Menghembuskan napas dalam dan merasa lebih siap dibukanya pintu ruangan yang berhasil membuatnya menjadi pusat asistensi.

"Pada belum tahu, kan segimana benalunya Ines?"

"Ah, iya. Inget banget. Si Dika pernah cerita tuh, sempet jadi korbannya Ines waktu semester dua. Lagi pendekatan, ternyata Ines nggak cuma jalan sama dia, tapi sama yang lainnya juga, nggak lama, keburu Dika tahu busuknya."

"Untung Dika cepet sadarnya, Roni anak akupuntur lebih dari tiga bulan malah. Diporotin Ines habis-habisan, nraktir makan, nganter jemput, cuma dimanfaatin lah pokoknya. Ditembak ditolak, dan ternyata tuh lonte PDKT dan jalan sama yang lain di belakang Roni."

Fight for HappinessCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang