Ines kira pertemuannya dengan Hito hanya sebatas one night stand kala itu. Namun, ternyata Hito kembali menghubunginya, hingga pertemuan demi pertemuan membuat keduanya kian dekat dan terlibat dalam hubungan friend with benefits.
Lalu, bagaimana jik...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
•HappyReading•
Ines menatap kosong pegangan tangannya yang terlepas begitu saja dari lengan Hito.
Ia masih berdiri terpaku, ada perasaan seperti ada sesuatu yang terasa kurang, kehampaan dan bercampur kecewa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Padahal tadi, ia hanya sedang bercanda, dan kebetulan Hito lah yang sedang berjalan di sebelahnya.
Ines seperti kehilangan kemampuan berpikirnya. Ia sama sekali tidak menadapatkan jawaban, meski sudah bersikeras mencoba mencerna kondisi hatinya. Yang ada hanya perperangan batin yang tidak ada ujungnya.
Lelah sendiri, akhirnya setelah beberapa detik termenung, Ines menggelengkan kepalanya samar dan mengedikkan bahu masa bodoh. Kemudian melangkah ringan mengikuti langkah yang lainnya.
Hito memilih menjauh dari teman-temannya, menyembunyikan wajahnya yang kemungkinan memerah. Ia tahu apa yang tadi Ines ucapkan hanya sebagian isi konten dari pembicaraan mereka.
Tapi, tetap saja, itu tidak bisa membuat ia tidak bisa berhenti tersenyum hanya karena mengingat bagaimana ekspresi dan suara Ines saat mengucapkannya.
Hito mengacak rambutnya, mati-matian berusaha mengulum senyumnya yang masih setia merekah.
Ia mencengkram erat gantungan baju lalu menggesernya perlahan seakan sedang melihat-lihat pakaian yang terdisplay. Jika tidak seperti ini, Hito takut tidak bisa mengendalikan dirinya untuk tidak membawa Ines masuk ke dalam rengkuhannya.
Mata tajamnya terus awas mengikuti setiap pergerakkan Ines. Sudut bibirnya tertarik ke atas setiap kali ia melihat bagaimana Ines tersenyum, tawa lebar gadis itu ketika beradu ejekan dengan Bian. Ia menyukai ekspresi yang Ines perlihatkan saat terlibat berdebat kecil dengan Dilla, saling mengomentari pakaian yang mereka pilih.
Hito buru-buru menunduk dan berpura-pura sibuk memilih pakaian yang ada di hadapannya begitu mata Ines mengedar dan sepersekian detik bersibobrok dengannya.
"Selera kamu sekarang berubah atau emang udah berkembang?"
Hito tidak segera mengangkat pandangannya, karena ia sudah mengenal jelas pemilik suara itu. Ia masih menatap sneakers putih yang berjarak setengah meter dari tempatnya berdiri.
"Kamu suka hem berlengan pendek sekarang?"
Setelah pertanyaan kedua terlontar, Hito baru mendongak secara perlahan, mengamati penampilan Ines siang ini. Celana jins biru gelap dan blouse tipis berlengan panjang warna hitam yang sedang dikenakan gadis itu, membuatnya semakin terlihat menawan dan dewasa.