33. Masih Tersimpan

21.1K 3K 661
                                        

Makasih ya buat doa-doa kalian semua, maaf nggak bisa bales satu-satu 🙏

Jaga kondisi ya kalian, semoga selalu sehat dan jangan lupa bahagiaaaa

Jaga kondisi ya kalian, semoga selalu sehat dan jangan lupa bahagiaaaa

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

•Happy Reading•

Setiap orang belum tentu baik. Namun, pasti ada kebaikan dalam diri setiap orang.

Maka dari itu, sekesal-kesalnya Ines pada orang lain, ia lebih suka memendam amarahnya. Meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu bisa saja terjadi, dan tidak setiap hari. Karena pasti ada saatnya dimana dirinya juga menjadi faktor penyebabnya rasa kesal orang lain.

Orang lain tidak dapat selalu memuaskan kita, dan kita juga tidak harus selalu memuaskan orang lain.

Apalagi ini Desy, orang yang sudah berteman dekat dengannya selama bertahun-tahun.

Ines menghela napas lemah sebelum mengangkat panggilan telepon dari Desy. Baru juga membuka mulutnya, suara ceria dan menggebuh-gebuh akibat tak kuasa menahan rasa senang sudah lebih dulu menyapa pendengaran Ines.

"Mas Andra baik banget ya, Nes? Selesai makan siang bareng, aku dianterin ngambil motor ke tempat praktek. Aku kira bakal udah gitu aja, ternyata mas Andra malah ngikutin motor aku dari belakang sampai nyampai depan apartemen," ujar Desy.

Ines memutar matanya sebagai respon pertama. "Oh, ya?"

"Dih, nggak mungkinlah aku bohong, Nes! Sumpah ya, sumpah! Seneng banget aku, Pek. Mana mas Andra tuh perhatian banget, mana lembut banget lagi orangnya. Nanyain aku mau pesen makan apa, minum apa-"

"Itu mah cuma pertanyaan basa-basi kali, Des," sambar Ines.

Ia membuka kasar tutup botol cleanser dan menuangkan asal pada kapas yang ada di tangan kirinya. Ponselnya ia jepit di antara bahu dan kepalanya.

Hito yang baru keluar dari kamar mandi, berjalan mendekati Ines. Ia mengambil helai demi helai rambut Ines.

Ines memperhatikan pergerakan dari Hito melalui pantulan cermin meja rias di depannya. Cowok itu terlihat jauh lebih segar. Handuk kecil masih tersampir pada bahunya, menghalau tetes demi tetes air yang masih saja turun dari rambutnya agar tidak langsung mengenai kaos polonya.

Tangan Ines tetap bergerak membersihkan sisa-sisa make up yang menempel di wajahnya, bibirnya tetap memberi respon untuk apa yang sedang Desy ceritakan.

Setelah semua terkumpul, Hito sedikit membungkuk dan memajukan badannya untuk mengambil jedai yang tergeletak asal di depan meja rias yang sedang di duduki cewek itu.

Dari jarak setipis ini, Ines dapat mencium aroma sabun dan shampoo miliknya.

Hito bukannya segera bangkit, cowok itu malah terdiam sesaat begitu ekor matanya melihat leher jenjang putih mulus milik Ines yang terekspos sempurna. Perlahan, dengan amat perlahan Hito menoleh, memposisikan bibirnya berada tepat di depan telinga Ines.

Fight for HappinessCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang