Ines kira pertemuannya dengan Hito hanya sebatas one night stand kala itu. Namun, ternyata Hito kembali menghubunginya, hingga pertemuan demi pertemuan membuat keduanya kian dekat dan terlibat dalam hubungan friend with benefits.
Lalu, bagaimana jik...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
•Happy Reading•
H
ito memijat pelipisnya yang berdenyut, ia masih harus mengerjakan perbandingan dan mengirim kembali secepatnya pada client-nya yang meminta revisi tadi sore.
Sekitar dua jam lamanya Hito baru menyelesaikan pekerjaannya, ia menghela napas lega sambil membereskan berkas-berkas yang berserakan di mejanya. Meringis ngeri mendapati bergelas-gelas kopi telah kosong di atas mejanya.
Meregangkan tubuhnya sejenak sebelum berjalan keluar dari ruangan kerjanya. Jas rapi yang tadi pagi ia kenakan hanya ia sampirkan pada tangan kirinya begitu juga tas kantornya.
Hito hanya tersenyum ngkat saat melewati meja-meja karyawan yang masih bertahan padahal waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam.
"Woy, To, orang niat jemput malah main tinggal aja, lo."
Hito berdecak ketika Bian dengan akrab merangkul bahunya dan di sebelah kanannya ada Rayn yang memasang cengiran khasnya.
"Bosen gue dari SMA sampe sekarang ketemunya kalian mulu," gumamnya jengah.
"Males, nggak temen ah gue sama lo," Bian tak kalah menggerutu, bibirnya manyun sok seksi. Ia sengaja menabrak bahu Hito dan masuk ke dalam lift terlebih dulu bersama Rayn. Menekan tombol tutup berulang kali pura-pura ngambek meminta dikejar.
Hito lari kecil, berhasil masuk sebelum pintu tertutup sempurna dan menyeringai. "Anda kurang beruntung, kawan."
"Kita nggak berkawan," balas Bian ngegas.
"Nggak inget waktu galau, siapa yang selalu ada? Kita! ... nemenin mabok, ok kita jabanin," ujar Ryan.
"Lo nolak makan, kita suapin," sahut Bian.
"Minggat ke Eropa, pindah-pindah tempat dan berbulan-bulan, kita jabanin," ujar Ryan lagi.
"Hidup bareng tengkorak hidup yang merasa beban hidup seluruh makhluk di muka bumi ini dirinya yang nanggung. Kita sabarin," sahut Bian semakin penuh drama.
Kalimat yang mereka ucapkan itu kenyataan yang terjadi tiga empat lalu pada Hito, bertepatan dengan kabar Auxy menggugurkan kandungannya.
Mulut Ryan yang terbuka kembali tertutup. Ia menunda membalas ucapan Bian karena saat pintu lift terbuka tepat lantai enam, menampakkan perempuan menggunakan dress bermotif floral dengan warna dasar misty bergabung bersama mereka, mesuk ke dalam lift dan menekan tombol GroundFloor, kepala menunduk fokus pada ponsel.
Bian dan Ryan saling berpandangan dan saling menyikut, mencibir tanpa suara akan respon Hito yang nampak seperti melihat tambang berlian.
Ryan berdecak keras saat melihat mata Hito berbinar hanya dengan memandang punggung Ines.