43.Ending

44K 2.9K 519
                                        

Nervous bgt buat up chapter ini 😂Moga kalian suka yaaa

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Nervous bgt buat up chapter ini 😂
Moga kalian suka yaaa

HappyReading

Pukul 7 lewat sepuluh menit, Hito baru tiba di koridor Rumah Sakit. Satu tangannya menggeret koper berukuran sedang berisi keperluannya dan Ines, sebelahnya lagi menenteng tas kerjanya beserta kantong berlogo Genki Sushi.

Setelah memastikan tidak ada resiko komplikasi pasca operasi, Hito kembali ke kantornya. Ia tidak bisa mangkir dari pekerjaannya begitu saja, ada laporan khusus yang harus ia selesaikan bersama timnya.

Ia juga tidak tidak perlu khawatir sebab ada mamanya yang sigap membantunya menjaga Ines untuk sementara.

Riuh suara canda tawa yang didominasi oleh suara Mamanya, Auxy dan Dilla menyambut kedatangannya. Ia meletakkan semua barang bawaannya di dekat meja. Kemudian mendekati Ines.

"Hai, Sayang. Gimana?" Hito mencuri satu kecupan di dahinya Ines, baru setelahnya memberi jarak dua langkah mundur ke belakang, sebab ia sadar banyak debu dan kotoran menempel di tubuhnya setelah seharian bekerja.

Diam-diam Hito menyeringai dengan ulahnya barusan. Saat normal pasti Ines tak akan segan mengamuk padanya, sayangnya sekarang perempuan itu hanya bisa berpasrah diri. Jadi Hito bisa leluasa bergerak semaunya.

"Ines aman kok sama Mama," Belinda menyahuti.

"Sekarang kan udah ada Hito." Auxy bangkit berdiri. "Kita pulang yuk, Ma. Kasihan Ines kalau mama kelamaan di sini. Bisa-bisa luka jahitannya kebuka gara-gara mama ajakin becanda terus."

"Mama kan cuma pengen bikin Ines seneng." Belinda membela diri, lalu menatap ke arah Ines dengan binar hangat. "Kamu nyaman, kan, Ines sama Mama?"

Ines mengangguk. Belinda seorang ibu-ibu kekinian yang asyik, meski sedikit cerewet. Bukan dalam hal negatif, tapi mengarah pada kepedulian, tidak membeda-bedakan.

Belinda selayaknya leader bagi penggila fashion seperti Auxy dan Dilla. Ines tidak berperan banyak dalam percakapan, akibat efek obat bius membuatnya kerap mengantuk. Tapi entah kenapa, suara bising mereka mampu membuatnya tenang.

"Bagus." Belinda tersenyum. "Sebentar lagi kamu kan jadi menantu Mama, jadi anak Mama. Udah seharusnya kamu menganggap Mama ini seperti ibu kandung kamu sendiri, jadi nggak boleh sungkan."

Ines mengangguk sekali lagi, ia yakin matanya sudah memerah sekarang. Saat terlalu nyaman dan hanyut dalam peran, Ines sering lupa dimana posisi dirinya sebenarnya.

"Yaudah, besok kalau mau makan apapun bilang Mama, ya, Sayang." Belinda mengelus rambut Ines lalu berpamitan bersama Auxy.

"Aku juga balik dulu, ya, Nes. Koko udah jemput." Dilla berdecak sambil membenahi penampilannya. "Takut kehilangan, ngekor terus."

Fight for HappinessCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang