37. Konfrimasi

12.1K 1.2K 23
                                        

•HappyReading•

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

•HappyReading•

"Jelasin,To. Bilang kalau kamu cuma bercanda."

Ines benar-benar tak tega melihat betapa rapuhnya Belinda. Satu masalah belum terselesaikan, bukannya membantu, anaknya yang satu lagi malah ikut membuat drama lainnya.

"Nggak sekarang, Ines. Cuma ini cara satu-satunya yang ada buat lepas dari masalah Auxy Zacky."

"Tapi nggak dengan bohong, To. Kalau kamu nggak mau ngomong, biar aku aja yang ngasih tahu." Ines tepis kasar tangan Hito yang masih bertengger di atas perutnya. Ingin menjelaskan pada Belinda tentang kebenarannya.

Tapi sebelum membuka mulut, ia merasakan tangan Hito memeras pinggangnya, menghentikan pergerakannya. Lelaki itu menggelengkan kepala tanda untuk menyuruh Ines mengurungkan niatnya.

"Lepas, nggak?" desis Ines. Matanya menatap tajam pada Hito penuh peringatan.

"Please!" desis Hito tak kalah tajamnya, seakan meyakinkan bahwa keputusannya sudah tepat, dan Ines harus menurut, lalu tinggal mengikutinya saja. "Kali ini aja."

"Kenapa mesti aku?"

"Adanya kamu." Mata Hito mengedar, menghembuskan napas berat melihat kegaduan yang ia buat.

"Dulu aku juga sering bantuin kamu, kan?" Ia tatap mata jernih Ines lebih lamat lagi sarat permohonan. "Jadi anggep aja kali ini aku lagi minta imbalannya."

"Perhitungan banget ya ternyata, kamu?" Ines mencebik, menatap Hito jengkel. "Baru tau ternyata kamu aslinya kayak gini."

Hito tersenyum saja, menepuk pelan kepala Ines menggunakan dahinya, ia sedikit menunduk untuk melanjutkan kalimatnya dengan berbisik, "Masih banyak hal tentang aku yang masih belum kamu tau."

"Halah, males!" Ines membuang muka merajuk.

Reno berdehem cukup keras, membuat kedua terdiam. Menatap menunggu apa yang akan disampaikan sang kepala keluarga.

Jantung Ines berdebar tak karuan, apa lebih baik ia langsung kabur saja? Toh, kemungkinan mereka dapet bertemu kembali sangat kecil sekali.

"Jadi maksud kamu, kami juga akan mendapat cucu darimu?" Reno membuka suara sambil membenarkan letak kacamatanya.

Ines menelan ludahnya susah payah, Tatapan seisi ruangan seakan hanya terfokus padanya. Bertanya-tanya sekaligus menuntun jawaban pastinya. Nampak tak sabar.

Hito pura-pura meringis, menatap menghibah pada orangtuanya. "Iya... udah saatnya Mama dan Papa tau. Aku nggak mungkin bisa nutupin ini terus-terusan dari kalian."

Pandangan Belinda jatuh pada sosok perempuan yang berdiri di samping putranya bungsunya. Terlalu larut dalam tekanan emosi akibat kehamilan Auxy, menyebabkan mereka semua tidak menyadari kehadiran orang lain di sini.

Fight for HappinessCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang