7. Si Pengatur

36.1K 3.6K 239
                                        

Happy Reading

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Happy Reading

Bahu Ines merosot selesai menerima telepon. Hito benar-benar pengganggu waktu rebahannya yang exclusive.

Ia pikir cowok itu tidak akan mengganggunya karena sibuk pacaran. Dilihat dari dari instastory Auxy, seharusnya begitu. Tapi apa ini? Pukul sembilan malam, Hito masih mendatanginya.

Kurang jatah atau malah nggak dapet jatah?!

Menampik banyaknya pertanyaan yang bersarang di otaknya, Ines berdecak dan bangkit dari posisi rebahannya. Menyisir rambutnya asal menggunakan tangan lalu memakai cardigan hitam yang tergantung di balik pintu.

Kamarnya ada di lantai satu, sesuai keinginannya, sebab terlalu malas untuk naik-turun tangga. Menyusuri lorong kamar yang tidak terlalu panjang Ines sampai di ruang tamu.

"Kok ke sini?"

"Kangenlah sama kamu."

Mendengar jawaban Hito, Ines menipiskan bibirnya mencibir, namun wajah tetap ramahnya. Ia duduk tepat di sebelah Hito, pada sofa panjang yang tersedia.

"Udah makan?" tanya Ines dengan nada perhatian.

"Udah. Kamu?"

"Udah kok, tadi beli nasi goreng depan gang sama penghuni kos yang lain."

Hito mengangguk, ia mengambil tangan Ines, ditaruhnya di atas pahanya, meremasnya pelan.
"Kenapa nggak tinggal sama aku aja sih, Sayang? Kalo sama aku kan, kamu nggak usah ngeluarin duit double, kosan sama apartemen di Solo. Makan ikut aku, kebutuhan kamu, aku yang tanggung."

Jangan lupakan, selain posesif, Hito ini pengatur yang handal. Kemauannya harus dituruti. Jadi Ines harus memutar otak— menanggapi santai

"Mau dong punya ayah bertanggung jawab kayak kamu gini," balas Ines ringan, ia tergelak di akhir kalimatnya. Tanpa harus tinggal bersama, hampir semua kebutuhan hidupnya Hito juga yang menanggung.

Hito mengelus lembut tangan Ines yang ada dalam genggamannya menggunakan ibu jari. "Jangan jadi ayah! Jadi pendamping kamu aja, aku bersedia ...."

"Kamu dengar suara Jangkrik nggak?" Ines menatap sekeliling, kemudian menoleh pada Hito. "Kenceng banget bunyinya ... Kriik, kriik, kriiik."

"Karepmulah!" Lama berada di Jogja membuat Hito mengerti dan bisa berbahasa Jawa, meski logat Jakartanya masih kental.

Ines tergelak akan respon Hito yang bersungut padanya. Sesering itu Hito menyuruhnya, sebisa itu pula Ines menolaknya secara halus.

"Cari yang lain, yang bebasan dikit, kek. Biar aku bisa gantian nginep di tempat kamu."

Tempat ini memang tidak memiliki jam malam, namun dikhususkan untuk perempuan. Membuatnya hanya bisa menunggu di ruang tamu yang tersedia dengan pengawasan CCTV.

Fight for HappinessCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang