28. Satu Langkah Maju

28K 3.5K 1K
                                        

•Happy Reading•

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Happy Reading•

"Hampir empat tahun, To. Itu lama ... gue sangsi perasaan lo ke Ines masih seutuh dulu."

"Dari dulu sampe sekarang rasanya tetep sama, selama itu Ines." Tubuh Hito bersandar di dinding dengan salah satu kakinya ditekuk. Tangannya yang memegang batang nikotin ia arahkan ke mulutnya, menghisap perlahan lalu menghembuskan asap ke udara.

Sudah seperti rutinitas, selesai makan siang di kantin kantor keduanya menuju rooftop untuk merokok bersama.

"Ck, bucin buat orang jadi goblok. Percuma lo punya wajah ganteng, karir ok, duit ada, tapi masih aja kejebak masalalu. Move on, Sat!" Ryan berdecak muak.

"Gue udah coba, lo sama Bian saksinya."

"Lo itu terlalu nyaman sama rasa terpuruk lo, bangkit bentar napa, betah banget rebahan tuh hati."

Hito terkekeh kecil, matanya terpejam sesaat merasakan sensasi ketenangan dari efek nikotin.

"Gue baik, makin baik malah semenjak ketemu Ines lagi. Kali ini gue nggak bakal ngelepasin dia segampang dulu."

Seringkali Hito menertawakan kehidupannya sendiri. Dengan semua yang ia miliki, tanpa berusaha keras pun banyak perempuan yang rela menyerahkan dirinya kepadanya.

Mau sesempurna apapun sosok orang baru itu, seakan tak ada artinya bila hati sudah menetapkan tempatnya.

Sekeras apapun Hito berusaha menghempas bayang-bayang Ines, semakin ia terperosok lebih dalam pada poros kehidupannya, dulu hingga sekarang.

Ryan menatap lurus gedung-gedung tinggi di sekitaran kantornya. Asap rokok perlahan keluar dari mulut dan hidungnya. "Lo yakin perasaan itu cinta?"

Hito terkekeh geli mendengar Ryan berdecak keras setelah kata cinta keluar dari mulutnya sendiri. Sahabatnya itu paling tidak memercayai apa itu cinta. Berbeda dengan Bian yang lebih mudah membuka hati. Dan dirinya, yang saat ini hanya bisa mencintai satu perempuan.

Jadi diantara mereka mana yang lebih memperihatinkan?

"Jangan sampe lo cuma ngasih makan ego lo pakek kedok belum bisa ngelupain, masih ada rasalah ... bisa aja yang lo anggap rasa cinta itu nyatanya udah basi. Yang ada cuma rasa penasaran campur dendam karena dia pernah buang lo gitu aja ... dulu lo pasti sering mikir apa yang salah, apa yang kurang dari lo sampe dia nggak mau sama lo. Dan, bisa jadi sekarang ... lo cuma mau ngasih pembuktian diri, kalo lo nggak sekurang itu. Kalo lo bisa naklukin Ines," lanjut Ryan.

Penjelasannya Yang panjang super lebar, membuat Hito menggeleng kepala takjub. Ternyata benar, discuss bersama orang yang tak mengenal cinta, lebih terasa dalam.

Berjuta kali ia memikirkan alasan Ines mendorongnya menjauh. Hingga percakapan terakhir mereka di apartemen perempuan itu membuka pikirannya.

Hito terlalu bodoh karena selalu membiarkan semuanya mengambang dan menganggap semua baik-baik saja. Ia juga tak pernah menanyakan apa mau Ines, menganggap semua yang dipikirkan dan dilakukannya sudah yang terbaik untuk perempuan itu. Lalu semua diperkeruh dengan sifat santai dan cuek Ines. Alih-alih bertanya, Ines lebih suka menduganya sendiri hingga mengambil keputusannya sendiri.

Fight for HappinessCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang