35. Alibi Hito

16.2K 2K 226
                                        

Maaf banget baru update 🙏 aku kira kemaren udah klik publis cerita ini

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Maaf banget baru update 🙏 aku kira kemaren udah klik publis cerita ini. Terus baca dm ada yang nanyain Hito Ines, check ulang dan baru ngeh kalau belum aku klik, woilah 😭

Makasih buat kalian yang mau nunggin duo pasangan ini 🖤

•Happy Reading•

Lebih dari setengah jam Hito berada di ruang tunggu yang tersedia pada lantai 7 Rumah Sakit, tempat praktek Terapi Wicara dan Terapi Okupasi. Ia duduk dengan kaki menyilang, memangku tabletnya, menyaring email yang masuk selagi menunggu Ines.

Mendesah lelah, Hito menyandarkan kepalanya pada tembok, memejamkan matanya sambil memijat pangkal hidungnya, berusaha mengurai pening karena terlalu lama terpaku pada layar.

Suasana yang sebelumnya cukup kondusif mendadak menjadi ramai memancing Hito segera membuka matamya dan memindai sekitar.

Hampir semua pintu ruang praktek terbuka, masing-masing terapis keluar bersama dengan anak-anal yang menampilkan beragam ekspresi.

Sebising apapun, Hito seakan tetap dapat menangkap suara Ines. Mata elangnya dengan mudah menemukan incarannya.

Senyumnya merekah semakin lebar, kepalanya menggeleng gemas melihat interaksi Ines dengan anak bimbingannya. Bocah yang ia perkirakan berusia 3 tahun itu nampak mendeklarasikan permusuhan, merajuk manja pada Ines kemudian mengadu pada orang tuanya.

Memggemaskan.. Ah, sayang sekali bibit-bibit unggulnya dulu gagal bersemi. Entah sampai kapan ia harus menunggu untuk dapat bercocok tanam kembali.

Begitu melihat Ines keluar dari ruang ganti lalu menuju ujung ruangan. Hito segera mematikan tabletnya, memasukkannya ke dalam tas kerja dan melangkah lebar mengikuti.

Hito menyukai reaksi keterkejutan Ines ketika menyadari keberadaannya. Mata bening perempuan itu melebar, disusul dengan mulutnya yang sedikit terbuka.

"Kok bisa ada di sini?" desis Ines lirih.

Mendengar bisik-bisik dan tatapan lapar yang disematkan rekan kerjanya pada Hito membuat Ines memilih berpura-pura saling tak mengenal daripada nanti mendapati beragam pertanyaan dari mereka. Belum lagi jika ada yang minta dikenalkan.

"Nungguin kamu," balas Hito sama pelannya. Matanya memandang lurus ke depan, pada pintu lift yang perlahan tertutup dan menampilkan pantulan samar Ines.

"Kirain Arya Saloka, ternyata jauh lebih ganteng yang ini."

Ines memutar bola matanya. "Arya Selokan kali ah," celetuknya ngawur.

Rekan kerja Ines serempak cekikikan dan bersorak tak terima pada Ines.

Entah tangan siapa, saking terbahaknya tanpa sadar memukul-mukul lengan Ines dan membuat tubuhnya bergerak merapat pada Hito.

Fight for HappinessCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang