8. Tertangkap Basah

39.1K 3.5K 300
                                        

Happy Reading

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Happy Reading

Hito mengajak Ines mencoba permainan yang bernama masangin kata orang Jogja. Masangin singkatan dari masuk dua beringin.

Permainan yang sederhana, hanya perlu menutup mata dengan kain, berputar beberapa kali baru berjalan lurus sekitar 20 meter dari depan Sasono Hinggil menuju tengah-tengah ringin kurung (sepasang pohon beringin yang diberi pagar berbentuk persegi berada di tengah alun-alun).

"Kalau berhasil sampai tengah, katanya apa yang dipengen bakal kejadian, mas." Pak Bejo yang sehari-harinya mencari nafkah dengan menyewakan kain penutup mata pada pengunjung alun-alun menjelaskan.

Hito tertawa kecil. "Musrik Pak di agama saya yang begituan."

"Namanya juga mitos, Mas. Buat menarik pengunjung." Pak Bejo terkekeh.

Bilang musrik tapi Hito mencoba juga apa yang dikatakan Pak Bejo. Ia menggumamkan sesuatu dalam hatinya. Jika sampai terjadi, berarti itu faktor kebetulan semata. Mitos tetaplah mitos.

Ines sedikit berjinjit saat membantu memasangkan sleyer hitam tipis, namun tidak menerawang, lalu mengikatknya di bagian belakang kepala. Memastikan tidak ada rambut Hito yang ikut terikat. "Kekencengan, nggak?

"Nggak kok, Sayang."

"Yaudah kalau gitu. Sekarang muter." Ines membantu memutar badan Hito lima kali sebelum melakukan misinya. "Udah, aku lepas, ya." Setelahnya Ines mundur dua langkah memberi jarak.

"Kamu ikutin aku, ya! Awas ninggalin!"

Bibir Ines mengerucut mengejek tanpa suara dan mengangkat kedua bahunya.

Hito berjalan tak tentu arah, sesekali ia berhenti melangkah ketika bertabrakan dengan orang-orang yang mungkin melakukan hal yang sama dengannya.

Merasa cukup, Hito berhenti melangkah. "Nes, Ines," panggilnya.

Tak ada sahutan, hanya suara percakapan dan tawa lainnya yang tertangkap indra pendengarannya. "Yang!" panggilnya sekali lagi.

"Yang, kamu dimana?"

"Ines, nggak lucu, ya!" suara Hito meninggi.

Menyerah tak segera mendapat jawaban, Hito membuka penutup matanya dan melihat sekitar. Cowok itu tersenyum puas berhasil berada ditengah-tengah ringin kurung, tinggal menunggu apa yang terjadi ke depannya.

Dari jarak 20 meter Hito bisa melihat Ines masih berdiri ditempat yang sama, melambai santai dan tersenyum padanya. Sedikit berlari kecil, Hito sampai tepat di depan Ines kemudian berkata, "Kamu, bukannya ngikutin aku malah diem di sini!"

Ines terkekeh. "Jangan manja, ngawasin kamu dari sini juga sama aja. Siapa tau kamu tabrakan sama mbak-mbak cantik, lumayan kan dapet kenalan baru."

Sedari tadi cowok itu sudah menjadi pusat perhatian, ralat, hampir dimanapun Hito berada. Kulitnya putih dan tubuhnya tinggi, belum lagi bahunya yang lebar, disusul kesempurnaan wajah tampannya mudah mencuri perhatian.

Fight for HappinessCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang