36. Kenyataan Yang Ada

16.8K 2.3K 331
                                        

•HappyReading•

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

HappyReading

Ines menerimanya tawaran pertemanan Hito begitu saja, menganggap masalalu, ya sudah, biar tetap menjadi cerita yang telah berlalu.

Melupakan dan memulai awal yang baru.

Tanpa memiliki maksud tertentu. Pure berteman. Mengabaikan debaran yang acapkali tiba-tiba menyinggahi hatinya setiap kali ia berinteraksi dengan Hito.

Ines tidak ingin masuk ke lubang yang sama untuk kedua kalinya.

Ines juga tidak menanyakan lebih lanjut ketika sadar cincin yang digunakan Hito sama persis seperti cincin yang diberikannya padanya, sebagai kado ulang tahunnya, sehari sebelum mereka bertengkar hebat. Lalu Ines tak menanyakan lebih lanjut tentang status Hito. Karena itu merupakan privasi lelaki itu.

Terlalu asyik, hingga membuatnya melupakan begitu saja. Hingga mengakibatkan kejadian yang tak pernah ia perhitungkan terjadi.

Setiap derap langkah Auxy yang semakin mendekat, gemuruh dalam dada Ines pun semakin kencang. Ingin sekali ia mencaci maki Hito, namun sadar, ia sendiri yang melemparkan dirinya kembali masuk ke dalam kehidupan Hito. Dengan suka rela, tanpa paksaan.

Dirinya juga bersalah di sini akibat kelengahannya.

"Bisa?"

Ines menoleh pada Hito begitu mendengar pertanyaan bernada perhatian. Siapa saja pasti dapat melihat jelas pancaran khawatir dari mata hitam legam milik lekaki itu. Bangkit dari duduknya, lalu menarik kursi stool, seperti mempersilahkan Auxy untuk mendudukinya.

"Makasih." Auxy mencari posisi duduk yang nyaman, lalu mengelus sayang perutnya yang membuncit. "Kamu belum jawab pertanyaan aku, To?"

"Pertanyaan yang mana?" Hito menaikan sebelah alisnya, melirik sekilas pada perut Auxy.

Entah kenapa gerakan mengelus perut yang dilakukan secara berulang-ulang oleh ibu hamil itu selalu berhasil mencuri perhatiannya. Lalu ia tersenyum kala melihat tonjolan kecil yang hilang timbul dan berpindah-pindah. "Eh, nendang-nendang, ya?"

Auxy mengangguk dengan mata berpendar haru."Kamu mau pegang?"

Tubuh Ines terpaku di tempatnya, layaknya orang bodoh yang tidak seharusnya berada di sini.

Apa itu anak kedua mereka? Lalu dimana anak yang dikandung Auxy 3 tahun yang lalu? Tanpa sadar Ines meremat batang kangkung yang sedang di pegangnya.

Suara bel yang ditekan berkali-kali dan pintu yang digedor kasar membuat ketiganya serempak menaruh atensinya pada pintu apartemen.

Hito mendesah, menarik tangannya yang hampir menyentuh perut Auxy. Memang kehamilan keduanya, perempuan itu lebih manja kepadanya.

"Biar aku buka dulu," kata Hito, entah pada Ines atau Auxy, mungkin juga keduanya, sebab lelaki itu mengucapkannya seraya berjalan menjauh.

Fight for HappinessCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang