31. One Step Closer

33.4K 3.5K 568
                                        

•Happy Reading•

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Happy Reading•

Bian duduk di kursi belakang sambil cemberut, sedangkan di sebelah kursi pengemudi ada Ryan yang tak berhenti menggerutu dan mengumpati Hito karena telah mengganggu Sabtunya-- yang biasanya dipergunakan untuk bersantai dan bangun saat matahari akan tenggelam, kini hanya bisa perpasrah mengikuti kemanapun Hito membawanya siang ini.

Wajah kusut dan mata panda keduanya kontras sekali dengan Hito yang nampak cerah dan segar.

"Emang pada mau kemana pagi-pagi gini?" tanya Dilla begitu masuk ke dalam mobil Hito.

Penampilannya siang ini selaras sekali dengan Ryan dan Bian, sebab selepas pulang kantor ketiganya menghabiskan waktu dalam hingar-bingar gemerlap dunia malam hingga dini hari untuk melepas penat.

"Ngantuk banget, Asyu!" terangnya sambil menguap. Ia terpaksa bangun akibat ulah Bian yang terus-menerus menerornya lewat telepon, memaksanya untuk segera turun karena sudah menunggunya di lobi.

"Udah siang ini, anak perawan nggak baik telat bangun," tutur Bian yang dibalas Dilla dengan dengusan masa bodoh.

"Daripada nggak bangun lagi." Dilla mengedikkan bahunya santai. "Untung gue bukan perawan, nggak perlulah ngikutin apa kata orang jaman dulu."

"Goblok!" Bian menoyor gemas dahi Dilla lalu keduanya terbahak bersamaan.

Hito yang duduk di belakang kemudi ikut terkekeh kecil sembari memutar kepalanya. "Ines mana?"

"Kerjalah. Emang lo nggak hubungi dia?"

Hito menggeleng singkat. Ia memang sudah mengantongi nomor ponsel Ines, tapi menahan untuk tidak menghubungi perempuan itu lebih dulu. Ia ingin membuat Ines senyaman mungkin berada di sekitarnya, seakan kedekatan mereka mengalir begitu saja, tanpa dirinya terlihat terburu-buru dan agresif.

Yah, meski harus mengorbankan para teman-temannya ini.

Tak mengapa, sebab cintanya pada Ines sudah membabi buta.

"Pulang jam brapa dia kalo Sabtu?" tanya Hito.

"Gue tanya dulu ke anaknya."

Selagi menunggu Dilla menghubungi Ines, Hito menjalankan mobilnya menuju tempat praktek Ines. Jalanan padat Surabaya membuat jarak yang dekat tetap membutuhkan waktu lama untuk tiba di sana.

Setelah mengirim pesan pada Ines, Dilla menoleh pada Bian yang duduk di sebelahnya. "Kamu belum mandi? Lusuh gitu."

Bian yang sebelumnya menyandar pada jendela mobil, menegakkan duduknya lalu memandang Dilla sinis. "Bacot lo, Bebs! Wangi plus ganteng maximal gini lo kata belum mandi."

"Salah muka kamu berarti, kenapa masih keliatan kusut kayak gitu," sahut Dilla santai, tangannya kini sibuk memoles wajahnya dengan make up tipis yang tak sempat disematkannya.

Fight for HappinessCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang