19. Birthday Gift Dari Mantan

25.1K 3.2K 533
                                        

•Happy Reading•

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

•Happy Reading•

Ines mengoles lipstik matte yang cocok untuk make up natural sehari-hari. Kemudian ia memastikan bahwa maskara dan alisnya telah sempurna. Kulit seputih susu miliknya, membuatnya tak perlu repot-repot menaburkan bedak pada bagian wajahnya.

Menatap pantulan dirinya pada cermin yang ada di kamarnya. Ines memastikan sekali lagi, tidak ada yang salah dengan penampilannya malam ini. Celana skinny jeans biru pudar dan sweater abu muda, rambut panjangnya ia biarkan tergerai bebas. Cukup pantas untuk bertemu Andra, lelaki itu menyukai perempuan yang berpenampilan tertutup.

Keluar dari unit apartemen sederhana yang ia sewa bersama Lisa, Ines turun ke lobby. Sudah ada Andra duduk tenang dengan wajah kalemnya di sofa yang tersedia.

"Nunggu lama?" tanya Ines yang berdiri menjulang di samping sofa.

Andra berdiri, tersenyum hangat dan menggeleng kecil. "Nggak kok. Ini gapapa aku ajak kamu keluar jam segini, dek?"

Melihat jam di tangan kirinya sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Antara segan juga ada keinginan dari dalam diri Andra untuk menghabiskan malam ini bersama Ines. Hanya sampai tengah malam, itu sudah cukup baginya.

"Gapapa, meskipun pulang pagi disini nggak bakal ada yang ngelarang atau gunjing," jawab Ines apa adanya dan tanpa beban.

Dahi Andra berkerut, apa gadis ini sudah biasa pulang larut malam? Atau hanya dirinya yang salah tangkap atas jawaban Ines. Sebenarnya bagaimana pergaulan gadis ini sekarang?!

"Iya," jawan Andra singkat.

Mereka berjalan bersisihan menuju basement dengan obrolan-obrolan ringan saling menanyakan kabar, padahal setiap hari mereka saling berukar pesan.

"Udah makan, dek?" tanya Andra saat keduanya sudah berada di dalam mobil.

"Belum, tadi sore ketiduran."

"Aku juga belum, mau makan sesuatu? Aku ikut kamu aja mau makan apa dan dimananya."

Soal makanan Andra memang tak pernah rewel, ia pemakan segala. Ines mengarahkan Andra ke salah satu Caffe yang buka 24 jam dan lebih jauh dari kampusnya ataupun lingkungan apartemennya, menghindari bertemu orang-orang yang mengetahui dirinya.

"Kamu dari awal disini udah tinggal di apartemen itu, dek?" tanya Andra membuka obrolan sambil menunggu pesanan mereka datang.

"Nggak, masuk semeter lima kayaknya baru pindah kesana," jawab Ines.

Sebelumnya Ines tinggal di kos-kosan dekat area kampus, karena paksaan Hito yang tidak bisa bebas berkunjung, akhirnya ia bersedia pindah.

"Sendiri?"

"Nggak,  sama temenku." "Sugar friend, kadang kalau dia butuh. " Ines memalingkan mukanya.

Andra mengangguk, sepertinya cukup nyaman dan yang terpenting akses penjagaan yang cukup ketat.

Fight for HappinessCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang