30. Maunya apa?!

29.4K 3.6K 790
                                        

•Happy Reading•

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Happy Reading•

"Kamu yang nyetir, Nes." Desy menyodorkan kunci motornya.

Ines mengerjapkan matanya bingung lalu menatap lamat kunci motor yang ada di tangan Desy. "Tapi, Des—"

Desy mengambil tangan Ines dan meletakkan kunci motornya di atas telapak tangan sahabatnya itu. "Bisa-bisa, Nes. Lagian kamu kan udah tahu teknik dasarannya, tinggal ngelancarin doang."

"Kagok rasanya, Des. Entar malah kenapa-napa di jalan, bukan cuma kita yang rugi, orang lain juga bisa ikutan rugi." Ines tetap kekeh menolak usulan Desy.

Hampir tujuh tahun dirinya tidak menyetir kendaraan beroda dua berbahan bakar bensin itu. Selain merasa kaku, Ines juga mempertanyakan kemampuannya sendiri. Banyak spekulasi kejadian buruk bermunculan di otaknya jika ia tetap memaksakan diri untuk menyetir.

Jarak dari apartemen ke tempat praktek sebenarnya tidak terlalu jauh, tapi padatnya jalanan Surabaya di pagi hari membuat Ines takut diserang rasa panik dan gemetar.

"Nggak-nggak, Nes, pelan-pelan aja. Aku awasain." Desy meyakinkan.

"Nggak sekarang, Des. Jalannya rame." Ines memilih jalan aman daripada mengambil resiko. Tidak ada jaminan atas apa yang Desy katakan.

"Emang kapan jalanan Surabaya sepi," sahut Desy jutek. "Yaudah sini." Desy menarik sedikit kasar kunci motornya dari tangan Ines.

Ines tersenyum kecut. Ia mengikuti langkah Desy naik ke atas motor matic temannya itu dan memakai helmnya.

"Aku yang punya motor, aku juga yang nyetir kemana-mana. Ck, definisi beban pertemanan kamu, Nes."

Sepanjang jalan Desy tak berhenti menggerutu dan memberitahu Ines tentang berbagai manfaat bila Ines dapat menyetir motor sendiri.

Gadis berambut sebahu itu mencebik sebal setiap kali Ines mematahakan argumennya. Apa susahnya sih belajar motor?

Seharusnya sahabatnya itu lebih mau berusaha lagi. Bukannya malah terus-terusan bersembunyi dibalik kata nggak siap dan takut. Terus saja seperti itu. Sampai kapanpun tidak akan pernah ada perubahan.

Ia kan juga ingin berada diposisi Ines. Duduk nyaman di jok motor disaat-saat lelahnya sepulang bekerja. Lebih lagi bila kemana-mana mereka bisa menyetir bergantian.

"Aku nggak sebeban itu, ya! Aku ikut patungan buat ngisi bensin, malah seringnya tiap hari aku yang ngisi full tank, padahal kamu yang makek buat jalan sama temen-temenmu yang lain." Ines yang biasanya selalu nampak santai, kini memberenggut tak suka dan menggunakan nada ketusnya secara terang-terangan.

"Motor, motor aku, bebas dong mau aku pakek kemana aja," sahut Desy tak kalah ketus. "Jadi ceritanya kamu mulai perhitungan sekarang."

Ines mendengus jengkel. Ternyata, meski sudah mengetahui atau mengenal baik karakter seseorang, tetap saja tidak bisa menutup kemungkinan akan terbebas dari rasa sakit hati dengan ucapannya dibeberapa kondisi.

Fight for HappinessCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang