15. Menjelang LDR

28.7K 3.2K 492
                                        

Hello..  Gimana kabar di 2022 ??

Maaf ya lama up nya 🙏

Disamping mager setelah libur panjang .. Aku lagi cari wangsit muter-muter otak buat rombak chapter ini, tapi isiannya tetep sama..

Tolong tandai jika terdapat typo 🙏

Tolong tandai jika terdapat typo 🙏

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

•Happy Reading•

"You look so sexy," ucap Hito, suaranya parau serak.

Ibu jarinya membentuk gerakkan melingkar, perlahan, sangat perlahan dengan gerakan konsisten membelai lembut pipi Ines. turun menuju leher, tengkuk dan bahu perempuan itu.

Ia dapat mengekspos seluruhnya tanpa terganggu karena Ines selalu mengikat rambutnya setiap kali mereka melakukannya— tentu saja Hito menyukai gagasan itu.

Sampai pada sebelah payudarah Ines yang berukuran sedang bulat penuh, dicubitnya gemas puncak mungil yang melambai meminta untuk disesap.

"Hito!" desis Ines tajam sambil menepis tangan nakal Hito.

Menjatuhkan tubuh lemasnya di atas Hito. Napasnya masih terengah setelah gelombang kenikmati menghampiri.

"You're so amazing, so tight-"

"Diem, nggak!"

Hito meringis saat Ines mencubit putingnya, berujung kembali terjatuh lemas. "Galaknya nanggung."

"Kayaknya kita butuh another round... boleh?" Hito menggoyang-goyangkan kedua lengan Ines, hanya sedikit guncangan tapi mampu membuat gairahnya kembali menyala-nyala.

"No, I'm dying."

Hito terkekeh mendengar jawaban hiperbola Ines. "Baru juga satu ronda, Sayang."

Sebelum nafsu kembali menguasai akibat guncangan tawanya, apalagi dibawah sana tubuh keduanya masih sama-sama menyatu. Ia membimbing tubuh Ines menyamping.

"Thankyou, Sayang." Hito menggeram puas dan Ines melenguh pelan saat Hito melepaskan kejantanannya dengan perlahan.

Hito mengurai pelukannya, duduk bersandar di punggung tempat tidur. Menatap kasihan bibit-bibit unggul yang terpenjara dalam karet berbahan elastis itu akan terbuang sia-sia.

Belum sempat Hito membuka, Ines lebih dulu menahan tangannya. Mengambil alih. "Biar aku aja."

Hito mengangguk membiarkan.

"Sabar ya, aku emang sengaja pelan-pelan, biar Dek Totonya aman, nggak kegores kuku Moms."

Mendengkus geli, Hito menarik dagu Ines mencium bibirnya kilat sebagai upaya agar Ines diam, tidak melanjutkan lagi ucapan randomnya.

Fight for HappinessCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang