Ines kira pertemuannya dengan Hito hanya sebatas one night stand kala itu. Namun, ternyata Hito kembali menghubunginya, hingga pertemuan demi pertemuan membuat keduanya kian dekat dan terlibat dalam hubungan friend with benefits.
Lalu, bagaimana jik...
Typo bertebaran. Nggak sempet ngedit 🙏.. Akunya udah negatif, tapi nggak tau kenapa kayak masih lemes gitu.. Batuknya juga nggak ilang-ilang 🤧
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
•Happy Reading•
"Udah tahu, kan sekarang?" tanya Hito, senyumnya sudah berganti dengan seringai.
Ines tertegun untuk sesaat, ia tersenyum kaku sambil mengalihkan pandangannya kembali pada isi kotak rastic itu. Dengan gerakan lembut Ines mengeluarkan cincin beserta spon pelindungnya.
"Iya, baru tau nih kalo nggak ada surat-suratnya. Masih di kamu, kan?"
Seringai Hito menyurut, wajahnya terlihat jengkel setelah mendengar pertanyaan Ines.
"Tauk, lupa!" jawab Hito kesal. Lalu ia memiringkan tubuhnya ke arah sebaliknya, memunggungi Ines.
"Yang kayak gitu masih bisa dihidupin lagi, Hito! Nih, aku kasih contoh buat bangkitin dia dari kematian."
Ines berdehem agar suaranya terdengar selembut kapas, mengalun lembut pada pendengaran lawan bicaranya. "Kan bisa aja kamu bilang, iya masih aku simpen di tempat aku, kamu mau kesana buat ambil, nanti biar aku jemput. Atau lain kali kalo kita ketemu lagi aku bawain ya? Jadi kapan kamu senggang? Sekalian lunchordinner, mungkin?"
"Jadi gitu cara kerja mulut para pemain?" todong Hito.
"Nggaklah. Kalo pemain mainnya pakek lidah, kalo cuma pakek mulut namanya kecup, nyicip doang." Ines tergelak sendiri akan jawaban absurdnya.
Hito melirik Ines dari belakang bahu tegap cowok itu, melihat bagaimana ekspresi dan apa saja yang wanita itu lakukan. Bibirnya berkedut menahan senyum, tangannya ia buat bersedekap dada untuk menyembunyikan tangannya yang sudah mengepal erat. Ia juga menggigit bibir bawahnya tanpa sadar.
"Apa lirik-lirik?" tantang Ines begitu pandangan keduanya bersibobrok. Ia sudah berdiri dengan membawa baju ganti dan juga handuk bersih tersampir di bahunya. Semua barang yang berserakan di atas meja rias sudah ia masukkan ke dalam laci.
Hito melengos. "Udah sana, dari tadi ngomong terus nggak mandi-mandi! Airnya udah aku siapin, sesuai suhu yang kamu suka, dulu."
Hito menanti jawaban Ines dengan hati berdebar tak karuan. Rasanya ada yang gumpalan besar yang mengganjal pada kerongkongannya selepas ia mengatakan itu.
"Duh, masih inget aja. Baper nih, baper, jadi pengen minta!" Ines menabok gemas pantat Hito yang nampak sexy, hot, dan menggoda jika di lihat dari belakang seperti ini. Apalagi malam ini cowok itu hanya mengenakan short pants.
"Ines!" Hito memekik, spontan ia terduduk sambil menarik selimut dan menutupi bagian tubuhnya mulai dari ujunh kaki hingga ke bawah dagu. Matanya menatap awas pada Ines yang sedang menyeringai mesum dan menatapnya lapar, seperti buaya betina yang mendapati mangsanya.