Ines kira pertemuannya dengan Hito hanya sebatas one night stand kala itu. Namun, ternyata Hito kembali menghubunginya, hingga pertemuan demi pertemuan membuat keduanya kian dekat dan terlibat dalam hubungan friend with benefits.
Lalu, bagaimana jik...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy Reading
Ines mengangguk dan tersenyum saat rekan magangnya yang lain berpamitan pulang terlebih dahulu.
Indah—satu kampus beda jurusan, menepuk pelan bahu Ines. "Ikut, nggak?"
Ines menggeleng, bahkan dirinya tak perlu repot bertanya kemana, mau apa dan sebagainya. Karena setiap sore mobil Hito sudah terparkir rapi menunggunya.
Badan Indah membungkuk, sedikit mengintip parkiran roda 4 yang tersedia. "Ya, udah dijemput ternyata."
Ines meringis. "Iya, nih, sorry, ya..."
"Pacar kamu, Nes? Rajin amat anter-jemput tiap hari. Perhatian banget."
Ines tertawa hambar, menertawakan apa yang Indah katakan. Pacar? Pacar orang kali.
"Bukan, tetangga kosan, lumayan 'kan aku hemat ongkos." Ines menyengir. Segera berpamitan dan melambaikan tangan keluar tempat praktek lalu masuk ke dalam mobil Jazz putih.
Hito menyambutnya dengan senyuman. "Capek?" tanyanya lembut saat melihat wajah kusut perempuan itu.
Ines mengangguk manja tanpa mengeluarkan suara, menyandarkan punggungnya tanpa perlu mencari posisi yang tepat, pertanda dia orang terakhir yang duduk di sini.
Tangan Hito terulur menarik sedikit bagian atas kemeja dusty milik Ines. Menyeringai puas mendapati hasil karyanya semalam pada dada bagian kiri perempuan itu nampak masih merah keunguan. Kemudian menutupnya dan memasangkan seatbelt untuk Ines .
"Entar aku pijitin," ujar Hito. Kini ia mulai melepas handrem dan mengganti gigi mobil.
Ines mendengkus. "Pijit versi kamu itu beda."
Hito tertawa, mengerti apa yang dimaksud perempuan itu. "Tapi bikin kamu keenakan juga 'kan? Aku yang kejepit kamu yang menjerit."
"Emang gimana teriakkannya? Belakang aja, yuk, buat rekam adegan!" ajak Ines. Matanya berkilat menggoda, membasahi bibirnya yang kering selagi mengarahkan dagunya ke jok belakang mobil.
"Kalau pagi, kan serangan sang fajar, kalau sore gini, apa namanya? Serangan sang senja?"
Hito menggeleng geli, tak bisa mengatakan apa-apa lagi, hanya tawa renyah yang menggebuh. Satu tangannya ia gunakan untuk mengacak gemas rambut Ines.
"Mau makan dulu?" tawar Hito setelah tawanya mereda.
Ines memberenggut tak kunjung dapat jawaban dan Hito malah mengalihkan pembicaraan. Namun ia tetap menjawab pertanyaan Hito dengan nada yang kelewat antusias. "Mau banget!" serunya.
"Tadi siang sempet makan, kan? Makan apa?" tanya Hito. Jadwal yang padat di kampus membuatnya tak bisa keluar makan siang bersama Ines seperti biasanya.