Chapter 11 :-!

46.8K 5.5K 106
                                        

Diana termenung ditengah malam dalam kamar barunya yang empat kali lebih luas dari kamar lamannya, ia sama sekali tak merasa senang, ia merasa terbebani dengan itu. Kenapa Duke dan Baccrox selalu bertingkah aneh belakangan ini, Diana berpikir keras bagaimana caranya agar lepas dari lingkaran kematiannya

' ah . . . ini melelahkan

Tinggal beberapa menit lagi sebelum hari berganti, beberapa menit lagi juga dikehidupan kedua Diana ia akan berumur sebelas tahun, tak akan ada pesta, keluarga duke tak pernah menggelar pesta perayaan ulang tahun untukknya dan Diana dulu juga tak pernah meminta pesta ulang tahun, karena saat umurnya yang kelima tahun, Ia akhirnya paham mengapa ia dibenci oleh keluarganya, karena ia adalah penyebab luka terbesar dalam keluarganya itu. Hanya Marrie lah yang selalu memberinya hadiah dan mengatakan bahwa itu bukan salahnya.

Diana turun dari ranjang, melangkahkan kakinya keluar ruangan, dengan masih menggunakan gaun tidur Diana melangjah menuju bagian utama mansion, disana terdapat lukisan besar Duchess yang tersenyum dengan cantiknya.

Diana berdiri didepan lukisan Ibunya menatap mata biru laut cantik, dengan menatap lurus lukisan itu, maka lukisan itu juga akan menatapmu. Diana mulai menyatukan tangannya dan menunduk kan kepalanya. Tepat dihari kelahirannya, Ibunya juga meninggalkan dunia ini.

Perlahanan dadanya mulai sesak, air mata mulai keluar tanpa seizinnya, terdengar isakan kecil yang perlahan terdengar dengan jelas, jika mendengarkannya terdengar sangat menyedihkan, tangisan gadis kecil yang rapuh dan penuh luka.

" Kenapa saat kau pergi . . kau tak membawaku ibu .. ? "
" A-aku penuh luka . .ini menyakitkan"
" Kumohon . . . . sekali saja kau datang . . memelukku . . "
" Kenapa kau . . Membunuh dirimu sendiri . . Demi . . anakmu . . . yang kejam ini "
" Maaf . . aku benar-benar minta maaf, telah . . menyia-nyiakan hidupku yang . . . . kau berikan"
" Aku tak akan . . Melakukannya lagi ."
" Kali ini aku akan bahagia . . untuk diriku . . . sendiri"
" Semoga . . kau tenang disana . . Ibu, tolong jaga aku dari sana, dan Terimakasih"

Diana menangis, suaranya terdengar menyakitkan, mampu membuat orang yang mendengarnya ikut menangis merasakan seoalah merasakan deritanya. Hatinya terasa teriris mengingat kehidupan pertamanya, Ia masih ingat benar apa yang ia katakan disaat-saat terakhirnya, ia tak membutuhkan cinta, ia akan hidup untuk dirinya sendiri, ia tak akan mengulangi kebodohannya untuk kedua kali.

Diana mulai menghapus air matanya dan kembali tersenyum, ia melangkahkan kakinya kembali menuju kamar, membaringkan tubuhnya di tempat tidur, menyelimuti tubuh kecil nya, terbenam sempurna dalam tempat tidur. Tak butuh waktu lama, Diana pun tertidur. Dimimpinya, seseorang memeluknya dengan erat, Diana tak tau siapa, Diana hanya tersenyum cerah. dan memeluk balik orang itu.

.
.

Saat Diana menangis tersedu-sedu, semua orang dimansion mendengarnya, para maid dan tak terkecuali Duke, mereka melihat dari kejauhan. Mereka ikut meneteskan air mata, mereka tau benar nona satu-satunya ini sangat menderita, walaupun dulu ia terus tersenyum dan bersikap manja, namun tak pernah ada seorangpun yang melihatnya menangis. Baru akhirnya mereka sadar, bahwa nona mereka sangat kecil dan rapuh. Gadis kecil yang manja dan menyebalkan, dalam beberapa bulan terakhir tergantikan dengan gadis kecil yang kosong dan dingin tak tersentuh.

Para pelayan tak pernah memperhatikan Diana, karena Duke mengabaikannya. Mereka sebenarnya kasihan dengan nona mereka yang selalu terabaikan, tapi mereka juga tak bisa menunjukkan simpatinya pada nona kecil mereka itu karena takut akan dihukum oleh Duke.

.
.

Matahari bersinar dengan teriknya, terusik dengan cahaya matahari yang masuk dari jendela Diana menempatkan tangannya diatas matanya

" Marrie, tolang tutup tirainya . ."

Tak kunjung mendapat jawaban, ia pun bangkit dengan nyawa yang belum terkumpul dan munutup tirainya sendiri. Dan kembali merebahkan tubuhnya, merasa ada yang salah ia kembali membuka matanya, setelah nyawanya penuh, Diana membelakkan matanya dengan mulit yang terbuka lebar. Tepat didepannya berjejer tumpukan hadiah yang tak terhitung jumlahnya, dan yang menarik atensinya adalah gaun berwarna pink yang begitu indah dihiasi banyak batu permata berwarna senada dengan matanya.

' apa lagi ini . .?

Diluar kamarnya terdengar begitu bising, terdengar orang yang lalu lalang, Diana pun melangkah keluar dengan piyama tidurnya dan benar saja, para pelayan terlihat sibuk mendekor mansion.

' apa untuk peringatan kematian Ibu? bukannya terlalu mewah? tidak, bahkan belum pernah ada perayaan untuk memperingati kematian ibu'

Diana melihat Marrie yang juga sibuk mondar-mandir kesana-kemari membawa sesuatu

" Marrie . . ?"

Yang tadinya para pelayan sibuk mendekor, atensinya beralih menatap Diana. Marrie yang terpanggil segera menghampiri Diana

" Nona sudah bangun . ."

" Ada apa ini?"

" Tak ada banyak waktu nona, saya akan membantu anda bersiap"

Diikuti oleh beberapa pelayan dibelakangnya, Marrie membawa Diana kembali kekamarnya.

Tanpa bicara apapun, mereka melepas gaun tidur Diana dan menggantinya menjadi gaun mandi.

' heh . . ?! Seseorang katakan padaku apa yang sedang terjadi ..!!!

Para pelayan mulai memandikan Diana, menggosok setiap inci tubuhnya, lalu memijat jari-jari Diana , mendandaninya hingga lima jam lamanya dan terakhir memakaikan gaun pink bertabur permata ruby.

Diana menatap wajahnya yang terpantul didepan cermin
'ini aku? sangat cantik'

Para pelayan terharu, itu adalah sebuah mahakarya, nonanya terlihat begitu menawan

". Marrie ada apa ini . ."

Tanpa suara, Ran muncul melalui jendela balkon kamar

" Apakah kamu lupa adik, hari ini adalah pesta ulangtahun mu"

" pesta? untukku?"

" Ya, mari . . biar aku gandeng, para tamu telah menunggu dibawah "

Ran lalu mengaitkan tangan diana dengan tangannya, berjalan beriringan menuju hall utama mansion dutchy

' oh my gosh, apa yang mereka pikirkan?
' aku sama sekali belum pernah mengadakan pesta sebelumnya
' bagaimana bisa mereka mengadakan pesta tanpa memberitahukan ku
' astaga

Tangan diana bergetar hebat, apa yang akan dia lakukan didepan para tamu? Ia sama sekali tak paham

" Jangan gugup, aku disampingmu"

" A-aku benar-benar tak tau apa yang harus kulakukan kakak, kenapa tiba-tiba ?!?"

" Ini namanya surprise, dan ya,. . Kamu hanya perlu meniup lilin dan menikmati pestanya saja . . tak perlu melakukan hal lain"

' aduh, anak ini tak memberikan solusi apapun
' sial

.
.
.
~ To be continued

21 February 2021







AKU TAK INGIN DICINTAI LAGITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang