Jangan lupa dicek, yaaa! 💕 @oClock_project on twitter ><
Selamat menikmati 💝
Jemari mungil itu tak pernah terhenti mengusap lembut sisi wajah pria yang terlelap di sampingnya. Menangis semalaman tak peduli berapa kali pun dirinya mencoba untuk menghentikan tangisnya.
Jimin tak pernah menyangka jika dirinya akan mendengar hal itu secara langsung.
Berulang kali dalam beberapa bulan yang mereka lalui bersama Jimin meyakinkan dirinya akan semua yang logikanya pikirkan, tetapi ketika perkataan yang enggan ia dengar itu justru meluncur keluar dari bibir pria yang hatinya inginkan, pertahanan logika Jimin runtuh begitu saja. Dirinya tak bisa mengelak akan perasaan yang selama ini hatinya coba untuk sembunyikan. Min Yoongi juga telah membuat dirinya jatuh cinta.
"Kau sudah bangun?"
Jemarinya terangkat kaku, melayang di atas sisi wajah Yoongi yang masih memejamkan matanya. Menghapus lelehan air mata di wajahnya, Jimin berdeham dan mengangguk kecil.
Membuat Yoongi membuka matanya perlahan, memandang sendu wajah Jimin yang membengkak karena pemuda itu tak bisa berhenti menangis. "Kau terdengar serak, tenggorokanmu sakit?" ujarnya khawatir, punggung tangan itu ia bawa menyentuh dahi pria yang lebih muda. "Kau bahkan demam."
Bibir Jimin yang memerah dan bengkak, tersenyum gemetar. Rasanya sangat kaku dan kesemutan, tetapi Jimin tidak bisa menghentikan senyum yang terkembang di bibirnya. "Bukankah semua orang begitu jika terlalu lama menangis, Hyung?"
Dahi itu berkerut khawatir, mengusap pipi berisi Jimin dengan lembut. "Tetapi karena ku suaramu bahkan hampir hilang. Aku--"
"Aku akan marah jika kau meminta maaf setelah kau menyatakan perasaanmu padaku." Kekehnya. "Kau akan membuat semuanya terasa seperti sebuah kesalahan."
"Jimin-ah …."
"Terima kasih sudah mengatakan semuanya padaku, Hyung. Selama ini aku selalu menahan diriku dan berusaha untuk mengelak, mempertahankan logikaku meskipun hatiku tahu apa yang dirinya inginkan. Aku juga menyukaimu, Hyung. Bukan sebagai seorang teman, saudara, pun pasien favoritku. Aku menyukaimu layaknya seorang kekasih." Akunya.
Sudut bibir itu terangkat tipis, berbagai macam perasaan berkumpul menjadi satu dan mengaduk hatinya. Membuat dirinya tak bisa mengatakan apa pun dan hanya membalas tatapan sendu Park Jimin padanya.
"Tetapi aku berpikir bahwa mencintai tak berarti kita harus hidup dalam sebuah ikatan yang sama. Bukankah kau juga berpikir begitu, Hyung?" Jimin melanjutkan ucapannya dan tersenyum tipis.
Yoongi mengangguk pelan. "Ya, Jimin. Mencintai seseorang bukanlah sesuatu hal yang bisa kita tentukan, tetapi menjalani hidup dan berkomitmen untuk menjaga hati seseorang … adalah takdir ciptaan kita yang harus kita pertanggungjawabkan. Dan sejak awal, jauh sebelum kau menemukanku, kita sudah memilih."
Bibir itu kembali tersenyum saat air matanya kembali meleleh dan terasa panas di kulit wajahnya. Terisak kecil, Jimin mengeratkan remasannya pada seprai putih di bawah tubuhnya. "Ya, Hyung. Dan aku telah memilih Taehyung, sebagaimana kau menetapkan Jung Hoseok sebagai lelaki pilihanmu."
Yoongi mengangguk pelan. "Tetapi pastikanlah satu hal,"-Jimin mengangkat alis matanya, menunggu-"bahwa kau akan menjadikan kisah hidupku sebagai pembelajaran." Ia tersenyum lembut, menghapus air mata yang terus mengalir dari netra cantik favoritnya. "Cinta tidak cukup untuk dijadikan modal dalam pernikahan." Kekehnya. "Kau harus mengenali calon pasangan hidupmu dengan pasti, keyakinan yang dikatakan oleh logikamu jauh lebih dapat diandalkan daripada fakta yang hatimu coba ciptakan. Jangan sampai cintamu menyakiti dirimu sendiri, Jimin."

KAMU SEDANG MEMBACA
BORN OF HOPE
FanfictionA Yoonmin Fanfiction "Hanya karena dirimu. Terima kasih, telah membawaku hidup kembali."