"Hargai setiap detiknya karna kamu tidak akan tahu kapan jarum detik itu berhenti berdetak dan kapan bumi berhenti berputar"
Senja duduk termenung ditempat tidurnya. Memikirkan kenapa Ten dengan begitu mudah menerima dirinya dan bayi dalam kandungannya.
Apa mungkin Ten tahu siapa ayah dari bayi di dalam perutnya tapi tidak ingin membahasnya.
Iya. Pasti seperti itu.
"Senjaa~"
Ten menerobos masuk ke dalam kamar Senja sambil membawa pakaian tebal juga makanan.
"Pakai ini, kita akan ke rumah sakit untuk memeriksa kandunganmu" Ujar Ten bersemangat.
"Kau gila? Bagaimana kalau ketahuan?!"
"Cepat atau lambat semuanya akan terungkap"
"Begitu juga dengan ayah dari bayi ini yang sebenarnya?"
"Senja aku tidak ingin membahasnya"
Selalu saja begini. Ketika Senja mulai membahas ayah dari bayi di kandungannya Ten selalu menghentikannya.
"Cepat ganti sekarang."
Mau tak mau Senja menurut. Melakukan apa yang Ten inginkan.
:
Hampa.
Hanya itu yang dapat mendeskripsikan Sungchan saat ini. Ia tak tahu harus apa. Hidupnya seakan tidak ada tujuan dan makna.
Yang dilakukannya setiap hari hanya termenung di taman rumah sakit. Sampai sampai dia tidak mendengar ocehan Sinchan adiknya.
"Woi!"
Sungchan terkejut ketika Renjun dengan tiba tiba menepuk pundaknya. "Gue kaget bangsat!" Maki Sungchan.
"Ngelamunin apa sih lo?"
"Giliran jadwal kita padat lo misuh misuh, sekarang hiatus lo ngelamun mulu"
Tetap tak ada jawaban dari Sungchan. Membuat Renjun hanya menghela napas berat.
"Hidup memang seperti itu. Berat sekali sampai rasanya tak kuat untuk menopang. Terkadang membandingkan diri dengan orang lain. Bertanya kenapa hidupku tidak seenak dirinya walau sebenarnya kita tidak tahu apakah hidupnya memang benar seenak yang kita lihat atau hanya topeng belaka. Hanya kau yang mengetahui beban dan bahagiamu, Sungchan"
Sungchan menghela napas. Entah ada apa dengannya, dia juga tidak mengerti. "Aku merasa, aku telah melewatkan sesuatu dan aku tidak tahu apa itu"
Ya. Sungchan telah melewatkan hal besar. Dimana seharusnya dialah yang menggantikan posisi Ten saat ini. Dia yang menemani Senja ke rumah sakit. Dia yang seharusnya pulang lalu memeluk Senja. Mencium perut Senja yang semakin lama semakin membuncit.
Harusnya Sungchan yang melakukan itu semua. Bukan Ten. Dan entah kapan Sungchan akan menyadari keterlewatannya itu.
Senja tak berhenti tersenyum. Tangannya yang digenggam Ten dia ayunkan membuat Ten ikut tersenyum. "Segitu senangnya ya?" Tanya Ten.
Senja mengangguk antusias. "Kau tahu, ini adalah salah satu alasanku menabung dan lihat! Aku mendapatkannya!"
Senja tersenyum sambil membayangkan dirinya yang duduk di kasur sambil membaca buku dengan satu tangannya mengelus perut.
Buku itu tak lain tentang programming, novel kisah cinta remaja, tata surya dan juga tokoh tokoh dalam bidang IT. Senja sangat tertarik dengan IT. Kalau saja Senja bisa kuliah maka dengan sangat yakin dia akan mengambil jurusan teknologi informasi.

KAMU SEDANG MEMBACA
NCT V [END]
Fanfiction"Hari ini sulit. Dan aku yakin besok juga pasti lebih sulit" Sungchan menatap video yang dia rekam di ponselnya dengan berlinang air mata. Video bayinya yang masih ada diperut Senja ketika menemani istrinya itu periksa ke rumah sakit. Jantung Sungch...