when i choose you

82 12 0
                                    

Semua orang sudah kembali ke kamarnya masing-masing untuk beristirahat kecuali Sungchan yang tengah disidang oleh Lee Sooman.

Di lain tempat, Ten sedang berdebat hebat dengan Sia. Pertengkaran yang entah mendapatkan hasil apa karna keduanya hanya meluapkan emosi tanpa ada yang mengalah.

"Udah deh. Sekarang terserah kamu." Ten berujar lemas. Sia tampak tak terima. Apa-apaan lelaki didepannya ini?

"Kok kamu gitu? Dugaan aku benar kan. Kamu jatuh cinta sama Senja."

"Sia, please! Jangan ngomong asal! Kamu mau nyudutin aku biar keliatan aku yang salah, gitu?"

"Kalo kamu jawab gitu berarti kamu memang jatuh cinta sama Senja!!"

"Enggak Sia! Aku cinta sama kamu!"

"TERUS KENAPA PAS SUNGCHAN UDAH MAU TANGGUNG JAWAB KAMU NOLAK?!! KAMU UDAH TAHU LEBIH DULU KAN KALAU ANAK DI KANDUNGAN SENJA ITU ANAKNYA SUNGCHAN BUKAN MARK! LALU KENAPA KAMU DIAM?!!"

Ten kehabisan kata-kata. Semua yang Sia katakan memang benar. Ia sudah mengetahui ayah kandung dari bayi itu.
Tapi entah kenapa hatinya ingin tetap mempertahankan Senja. "Itu karna aku tahu Sungchan nggak akan bisa hidupin Senja!"

"Bantu ekonominya Ten! Bukan nikahin dia!"

***

"Jadi bagaimana?"

"Saya akan keluar dari NCT."

"Kamu sudah memikirkan konsekuensinya? Kamu mungkin akan sulit mendapatkan pekerjaan yang layak. Reputasimu akan sangat buruk dihadapan masyarakat. Kamu tinggal di Korea Selatan, Sungchan."

Sungchan meneteskan air mata. Kenapa dia ada di pilihan sulit seperti ini. Jika ia tetap di NCT, para member mungkin juga akan terkena imbas. Kalau dia keluar, bagaimana dia menghidupi seluruh keluarganya.

"Pikirkan sekali lagi Sungchan. Bincangkan  dulu dengan Ten atau Jaemin. Kamu tahu keluarga mereka kan?"

Sungchan jadi semakin takut.  Ia takut pada Jaemin. Lelaki itu akan memasang raut flat kalau sedang dalam mood yang kurang bagus. Menjawab dengan gelengan atau anggukan atau hanya diam saja seperti patung.

Dia orang yang susah ditebak.

"Jangan takut padanya. Kau tahu kan dia seorang relawan. Jangan ragu untuk meminta bantuan padanya."

Sungchan tersenyum pedih. Itu artinya dia adalah korban yang sedang mencari relawan yang bersedia membantu. Dan parahnya lagi, jika biasanya relawan yang mendatangi korban. Maka kini sang korban yang memohon pada relawan.

"Kau sudah setengah jalan, Sungchan."

Setelah selesai berbincang dengan Lee Sooman. Sungchan mendatangi kamar Senja. Membangunkan Senja dari tidur nyenyaknya.

"Kenapa?" Senja nampak masih sangat mengantuk dan enggan membuka mata.

Sungchan menarik tangan Senja untuk membantunya duduk. "Dengerin aku baik-baik"

Senja mengangguk paham. Sekali lagi Sungchan berdeham untuk menyakinkan dirinya sendiri. " Hari ini mungkin sulit. Tapi besok pasti akan lebih sulit."

Mulut Senja terbuka lebar. Apa-apaan lelaki didepannya ini?

"Sung—"

"Dengerin dulu. Aku belum selesai ngomong. Jangan potong sebelum aku selesai ngomong sepenuhnya. Oke?" Senja menganguk patuh walau sebenarnya dia agak ragu. Gimana kalau Sungchan ngomongnya makin parah dari yang tadi?

"Tapi aku yakin. Selagi kamu nggak ikut meragukan aku, aku pasti ubah sulit itu jadi suara Pluit. Tanda kita sudah menang sama-sama. Tegur aku kalau salah. Jangan diemin, tapi jangan juga direpetin."

NCT V [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang