Note:
Sampailah kita di part terakhir dari ceritanya Anas-Azki.
Agak panjang (3K+) nggak apa-apa yaaa :)
Enjoy reading.
***
Ruang operasi terasa begitu dingin. Cukup banyak petugas medis berada di sekelilingku. Semua berbaju hijau dikelilingi peralatan yang logamnya terlihat mengkilat. Kuamati satu per satu mereka yang akan membantuku dan anak-anakku. Kemudian bersyukur, setidaknya tak ada laki-laki di ruangan ini.
Para profesional itu bergerak cepat dan tangkas. Aku tak tahu apa saja yang mereka lakukan, yang kurasakan hanyalah ketakutan yang teramat sangat. Aku sendirian, bahasaku tak begitu lancar, suami tak ada di sampingku.
Aku ingat ibu, bapak, Hanafi, Mas Harits, Mbak Nina, bapak dan ibu mertua. Aku ingat Mas Anas. Aku takut tak bisa bertemu lagi dengan mereka semua. Lalu aku ingat diriku sendiri, bekal apa yang sudah kupunya kalau hari ini aku mati?
"Ya Allah, aku pasrahkan hidupku kepada-Mu. Ampuni segala dosaku, dosa kedua orang tuaku, juga suamiku. Kalau hari ini hari terakhirku, izinkan aku menutupnya dengan akhir yang baik. Laa ilaha illallah Muhammad Rasulullah." Aku berkomat-kamit menggumamkan doa, satu dua air mata kembali berlelehan di pipiku.
Salah satu petugas medis memintaku berbaring miring. Aku mengikuti instruksinya dengan keterbatasan bahasa yang aku punya. Lalu dia melakukan sesuatu pada bagian punggung bawahku. Mungkin ini yang disebut anestesi epidural, karena setelahnya, aku merasa mati rasa pada bagian bawah tubuhku.
Ada tirai pembatas dipasang, agar aku tak bisa melihat langsung proses operasinya. Karena aku sendiri yakin, akan makin stress kalau melihat perutku disayat seperti ibu membelah ayam.
"Tidak usah takut, insya Allah semua akan baik-baik saja. Banyak bersholawat, beristighfar, atau kalimat-kalimat baik lainnya. Berbahagialah. Sebentar lagi bayi-bayi mungil akan menyapa ibunya."
Petugas anestesi itu bicara padaku. Aku membalasnya dengan senyum. Kuikuti sarannya, aku merapal istighfar. Perlahan ketenangan datang, aku merasa bahagia. Benar, aku tak boleh merasa takut. Ini sebuah perjuangan, masa iya pejuangnya takut?
Kata-kata Mas Anas kembali terngiang, yang selalu ia katakan setiap kali aku membahas kemungkinan terburuk saat melahirkan.
"Laa tahzan, ya Zawjati. Kamu tahu kan, meninggal saat melahirkan termasuk syahid. Kalaupun itu yang terjadi, setidaknya surga telah menanti."
Yang kujawab dengan, "Terus kalau Ki mati, nanti Mas nikah lagi ya?"
Katanya, "Iyalah, kan aku masih muda."
Terus aku kesal. Merajuk. Mendiamkannya.
Aku tersenyum sendiri mengingat itu semua. Betapa Allah Maha Baik, menjodohkan aku dengan laki-laki sesempurna Mas Anas.
Lalu kejadian-kejadian sebelum kami menikah seperti diputar di benakku. Ya Rabb, betapa konyolnya kelakuanku saat itu. Aku malu. Lalu....
Oee oee oee.
Suara tangis bayi terdengar. Ya Rabb, itukah suara tangis pertama anakku?
"Alhamdulillah, bayi pertama sudah lahir. Laki-laki." Salah satu petugas medis memberitahuku.
Allahu Akbar. Aku sudah jadi ibu sekarang. Pipiku lagi-lagi terasa basah dan hangat. Haru.
"Mas, kita udah jadi bapak ibu. Anak pertama kita laki-laki," gumamku sambil tersenyum sendiri.
Aku menebak-nebak, apakah anak kedua kami perempuan, atau laki-laki lagi? Sebab Mas Anas tak pernah mau mengetahui jenis kelamin keduanya. Biar surprise, begitu katanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan Marbot Biasa
Ficción GeneralMeskipun rumahnya di seberang masjid, Syarifa Tazkiya (Azki) hampir tak pernah salat di sana. Hingga suatu hari, ia terpaksa harus mengantarkan keponakannya untuk mengaji di masjid seberang rumahnya. Di sana ia bertemu guru ngaji keponakannya. Azki...
