Memiliki pasangan halal ternyata sungguh menyenangkan. Serius! Aku menikmati setiap desir yang datangnya hampir tak berjeda. Bagaimana mau berjeda, Mas Anas seperti tak membiarkanku jauh darinya. Ia hampir tak pernah melepaskan genggamannya pada jemariku, kadang merangkul pinggangku, atau sekadar menatap mataku. Sungguh, aku merasa sangat dicintai olehnya. Dan semua terasa indah, hingga tak ada sedikit pun niat untuk mengusir kupu-kupu yang beterbangan di perutku.
Waktu asar hampir habis ketika tamu-tamu yang datang mulai menipis. Pada akhirnya waktu kami untuk berdua saja pun tiba.
Begitu masuk kamar, Mas Anas tanpa basa-basi langsung memelukku dari belakang. Hidung mancungnya mengendus-endus tengkukku yang masih tertutup jilbab.
"Ih, geli tauk, Mas. Lagian langsung tubruk aja, basa basi dulu kek." Kusikut perutnya dengan gemetaran. Lalu duduk di tepian tempat tidur yang dipenuhi berbagai macam hadiah serta seserahan.
"Yaelah, Ki. Hampir dua puluh lima taun hidup, baru sekarang boleh merasakan beginian, masa masih mau dihabisin waktunya buat basa-basi segala sih."
"Lah sama aja kalik, hampir dua puluh dua tahun juga aku belum pernah ngerasain yang seperti ini. Tapi kan aku malu kalo tiba-tiba harus begini begitu. Mana ternyata gelinya setengah mati. Duh, gimana dong ini?"
"Eh t-tapi kita juga b-belum mandi kan, Mas? Trus sebentar lagi juga maghrib. Mas gak siap-siap adzan?"
"Jadi kamu ikhlas nih kalo aku tinggal adzan maghrib, trus solat, trus ngajar ngaji, bablas adzan isya, salat isya, beresin masjid? Nggak sekalian aja kamu suruh aku tidur di masjid?"
"Eh, emm, ya ng-nggak gitu juga kali, Mas."
"Ciyeee Mbak Azki yang pengantin baru galau ni yeee," godanya.
"Apa sih, nggak jelas," gerutuku tersipu. Mas Anas bersila di hadapanku. Diambilnya kedua tanganku, dan dikecupnya lembut.
"Kita mandi dulu ya, Ki. Habis maghrib kita temui anak-anak. Aku punya sesuatu buat mereka. Setelah isya kita ke hotel, malam ini kita tidur di sana."
"Iya. Maaf ya, Mas. Di sini keadaannya begini. Berantakan nggak bisa dipake tidur."
"Ssstt, nggak perlu minta maaf. Satu hal yang kamu harus tau, Ki. Aku bahagia memiliki kamu."
"Ya Allah, Mas. Harusnya Ki yang bilang begitu. Ki yang cuma kaya begini. Muka pas-pasan, otak pas-pasan, kaya juga enggak, nggak ada istimewanya, tapi bisa jadi istri Mas Anas yang kalo dibandingkan sama Ki udah kaya bumi sama langit."
Tangisku pecah untuk yang kesekian kali. Hanya saja kali ini berbeda, ada Mas Anas yang menenangkan aku dengan peluknya. Kubalas dekapannya yang hangat, kutumpahkan semua rasa dan air mata di sana. Ia menciumi pucuk kepalaku, memunculkan kedamaian dalam diriku. Perlahan aku tenang, tangis pun mulai menghilang.
Sesudahnya kami mandi. Bergantian lah ya, karena kamar mandi di rumah ibu cuma satu. Mau nekat mandi bareng kok ya nggak enak sama keluarga. Juga sama pembaca. Eh!
***
Isya telah usai, kami berdua bahkan sudah berada di salah satu kamar hotel berbintang lima. Kata Mas Anas kamar yang kami tempati ini masih kelas yang paling standard. Padahal bagiku, mewahnya sudah tak alang kepalang. Maklum, seumur hidup aku belum pernah menginap di hotel sebagus ini.
Lalu aku mendadak terdiam. Terbayang kembali wajah-wajah sedih murid-murid kami mengaji ketika Mas Anas bilang bahwa kami mengajar tak akan lama lagi. Namun wajah-wajah sedih itu segera berganti bahagia ketika kami membagikan mukena dan sarung batik, juga sebuah buku bacaan untuk keempatbelas anak itu. Pelukan mereka menghangatkan mata kami, juga hati kami.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan Marbot Biasa
Fiksi UmumMeskipun rumahnya di seberang masjid, Syarifa Tazkiya (Azki) hampir tak pernah salat di sana. Hingga suatu hari, ia terpaksa harus mengantarkan keponakannya untuk mengaji di masjid seberang rumahnya. Di sana ia bertemu guru ngaji keponakannya. Azki...
