Sepertiga malam mulai memasuki bagian terakhir. Sebagian makhluk nocturnal telah pula mengakhirkan pencarian, entah karena kenyang, atau merasa telah cukup atas rezeki yang diberikan oleh Sang Tuan.
Mataku belum kembali terpejam, jari-jari masih sibuk beradu dengan gawai. Bertukar obrolan dengan Mas Anas nun di seberang samudra. Sebenarnya dia memaksa untuk melakukan panggilan video, tapi aku menolak. Bukan tak ingin, aku cuma takut ibu terbangun dan ceramah Mamah Dedeh episode kesekian kembali ditayangkan ulang. Ups, semoga aku tak masuk kategori menantu kurang ajar. Astaghfirullah.
[Azki. Tidur, Sayang. Jaga kesehatan. Ingat anak2 kita]
[Tp Ki masih pgn bareng2 sama ayahnya]
Dan air mata kembali meleleh. Ah, perpisahan memang membuat orang jadi cengeng.
[Iya, insya Allah lusa ketemu lg. Ini aku sdg berusaha transfer buat tiket tp gak tau knp gagal terus]
[Tiket apa maksudnya?]
Aku kaget. Dari tadi Mas Anas nggak bahas tiket apa-apa, hanya memang beberapa kali agak lama membalas chat dariku.
[Tiket pulang ke Indonesia lah]
[Astaghfirullah. Mas serius mau pulang? Buat apa sih?!]
[Aku mana tenang tau kamu tadi pingsan, Sayang?]
[Ih, Ki kan td cm pgn dimanja2, caper gitu. Gak ada maksud bikin Mas kuatir, aplg mlh pulang]
[Batalin nggak tuh tiketnya! Kl gak dibatalin Ki ngambek!]
[Udah ah, Ki mau tdr aja! Assalamualaikum]
[Sayang, jgn ngambek. Iya kubatalin]
[Kupikir kamu seneng kl aku plg]
[Istri mana yg gak seneng kl suami dr jauh pulang. Tp gak gini jg kali, Mas. Mas lebay!]
Kutaruh ponsel setelah mengaktifkan mode diam dan menonaktifkan getar. Mode ngambek dalam diriku tentu saja sudah kuaktifkan lebih dulu. Biarpun begitu, aku tetap saja tak bisa cuek. Mata masih istiqomah melirik benda pipih segiempat itu. Rentetan pesan dari suami terlebay di dunia terus mengalir tak terbendung. Aku konsisten untuk ngambek, walaupun tanganku sudah gatal untuk mengintip pesan-pesan itu.
Lalu panggilan telepon masuk. Tak kuangkat, sayang pulsanya si Mas. Panggilan internesyenel kan mahal.
Tak menyerah. Dia ganti dengan panggilan video, masih tetap kucuekin. Panggilan whatsapp, aku tetap bergeming. Lalu dia menghilang, sedang aku bertahan untuk tak membuka satu pun pesan yang dikirimnya.
Hampir setengah jam, hingga satu notifikasi kembali masuk ke ponselku. Terbaca sekilas, "Sayang, aku kirim voice note...", dan aku melambai ke kamera. Menyerah oleh penasaran yang merajalela.
Tak kuhiraukan pesan-pesan yang di atas, hanya tiga terbawah yang aku baca.
[Sayang, jgn ngambek nanti tidurmu nggak berkualitas]
[Voice note]
[Sayang, kukirim vn, pengantar tidur buat kamu & anak2 kita. Ketemu di mimpiku ya, aku tunggu di sana. I love you]
Aih, Mas Anas memang selalu manis dan membuatku berbunga-bunga.
Kupasang kembali earphone untuk mendengarkan voice note yang dikirimkannya. Suaranya yang merdu mengalun lembut di telingaku, seperti hari-hari yang lalu, setiap kali menunggu subuh sambil membaca Al Quran dan mengusap-usapku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan Marbot Biasa
General FictionMeskipun rumahnya di seberang masjid, Syarifa Tazkiya (Azki) hampir tak pernah salat di sana. Hingga suatu hari, ia terpaksa harus mengantarkan keponakannya untuk mengaji di masjid seberang rumahnya. Di sana ia bertemu guru ngaji keponakannya. Azki...
