Hari masih pagi, ketika aku tergesa berlari menuju kamar mandi. Mas Anas yang baru pulang dari bersih-bersih masjid menyusulku tak kalah terburu. Ceklek, segera kukunci pintu begitu badanku telah sepenuhnya masuk ke tempat yang kutuju.
Huek... Huek... Huek... Nasi goreng udang bikinan ibu keluar semua sebelum sempat tercerna dengan sempurna.
"Duh, gara-gara nggak nungguin suami sarapan bareng, jadi gini deh."
"Ki, kamu kenapa? Buka pintunya, Ki! Kenapa dikunci segala sih," teriak Mas Anas sambil tak henti menggedor pintu.
Hampir lima menit, selama itu pula Mas Anas bikin keributan di depan pintu. Aku keluar dari kamar mandi dengan penampilan kacau balau. Rambut berantakan, mata berair, juga hidung yang masih menyisakan ingus padahal sudah berkali aku mengelapnya. Wajahku memerah.
"Kamu kenapa? Keselek?" Mas Anas menyodorkan segelas air putih hangat.
"Dih, sempetnya ngeledek lho."
"Enggak, Mas. Perut Ki nggak enak aja. Tadi perasaan laper, gak tahan makanya Ki makan duluan nggak nunggu Mas pulang. Baru habis, trus Ki cuci piringnya, kok rasanya eneg, trus nggak tahan, akhirnya keluar semua."
"Kamu sih dibilangin suruh istirahat ngeyel. Cuci piring nanti bisa aku kan, Ki. Kamu tuh masuk angin habis kehujanan kemarin. Mana fisikmu udah keforsir buat ngejar nyelesein skripsi."
"Yang itu pun nggak selese-selese ya, Mas." Aku meringis.
"Udah, nggak usah bahas yang nggak enak nggak enaknya gitu. Pokoknya hari ini kamu istirahat aja, nggak boleh ke mana-mana. Nanti biar aku juga ijin nggak ngajar."
"Eh, jangan, Mas. Jangan sampe Mas gak melaksanakan kewajiban cuma gara-gara sesuatu yang nggak gitu darurat. Ki janji, hari ini Ki istirahat di rumah dan nggak akan ke mana-mana."
"Nggak darurat gimana, istri meriang sampe muntah-muntah gini kok nggak darurat. Buat aku kamu itu yang paling penting, Ki. Kalo kondisimu kaya gini aku bisa nggak fokus ngajarnya. Lagian aku udah nggak wajib ngajar kok."
"Dih, dosen nggak profesional."
"Kamu tu lho, Ki, dibilangin suami malah ngeyel. Nurut aja napa sih?" Ibu sudah ada diantara kami. Entah sudah berapa lama mengikuti adegan drama satu babak ini.
"Iya, Ibuku sayang. Ki kan udah janji mau istirahat."
"Nak Anas berangkat ngajar saja, biar nanti Azki ibu kerokin."
"Iya, Bu. Insya Allah saya tetap ngajar. Tapi Azki biar saya saja yang ngerokin."
"Nak Anas bisa ngerokin?"
"Khusus Azki insya Allah saya bisa, Bu."
"Oh, ya bagus lah kalo gitu," kata Ibu, wajahnya tampak menahan tawa. Bagaimanapun ibu pernah muda. Pernah jadi pengantin baru juga. Eaaa.
"Modus ih," gumamku sambil mencubit punggung Mas Anas.
Aku memang sungguh beruntung menjadi istrinya. Mas Anas selalu memperlakukanku dengan sangat baik, ia selalu berhasil membuatku merasa bahwa keberadaanku begitu berarti buatnya.
Selesai ngerokin punggungku, ia membaluri perutku dengan minyak kayu putih, juga kakiku yang sedingin salju, lalu memakaikan kaos kaki, dan menyelimutiku dengan selimut lembut warna abu-abu.
"Mas, Ki tuh nggak apa-apa, cuma mual aja tadi. Kok jadi perlakuannya kaya anak balita demam tinggi gini," protesku.
"Nah kakimu aja dingin gitu. Kelamaan kena air di kamar mandi tadi. Ya udah, senyamannya kamu aja ya, Sayang, yang nggak pas nanti diedit sendiri."
KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan Marbot Biasa
Ficción GeneralMeskipun rumahnya di seberang masjid, Syarifa Tazkiya (Azki) hampir tak pernah salat di sana. Hingga suatu hari, ia terpaksa harus mengantarkan keponakannya untuk mengaji di masjid seberang rumahnya. Di sana ia bertemu guru ngaji keponakannya. Azki...
