Petang itu cuaca sedikit mendung, padahal musim hujan belum juga tiba. Angin yang bertiup jadi terasa sedikit lebih dingin dari biasanya.
Aku berjalan menuju masjid setelah mengintip dari balik tirai jendela kamarku dan mengetahui bahwa salat maghrib baru saja usai. Hendak mengajar saja, karena aku sendiri sedang tidak salat.
Sejak kejadian 'nyaris mengundurkan diri' itu, diantara kami -aku dan Mas Anas- seolah tak pernah terjadi apa-apa. Mungkin Mas Anas sengaja tak membahas agar tak muncul kecanggungan baru di sela kami berdua. Atau nggak mau bikin aku baper? Baiklah, terima kasih untuknya jika ternyata jawaban yang benar adalah yang kusebutkan kedua.
"Mbak Azki, nanti habis salat isya jangan pulang dulu ya. Saya ada perlu sedikit." Mas Anas menghampiriku dan menyampaikan sebuah pesan sebelum kami mulai mengajar.
"Eh, tapi saya lagi itu, emm...."
"Haid?" Setengah berbisik dia melanjutkan kalimatku. Aku mengangguk. Dalam hati berkata, "Masa iya ini orang tau jadwal haidku segala sih!" Dih, ge-ernya kok ya sampai ke situ-situ lho!
"Ya sudah, kalo gitu nanti saya ke rumah, boleh?"
"Eh, gimana ya. Emm ya udah nanti saya aja deh yang nunggu di sini," sahutku segera. Aku nggak mau dia datang ke rumah, karena kalau ngobrol kan harus ada ibu. Takut yang diobrolin nyerempet-nyerempet harga diriku lagi.
Sebentar kemudian, kami mulai memasuki kegiatan belajar mengaji anak-anak. Dan seperti yang sudah-sudah, setiap kali ngaji dimulai dengan kisah, aku selalu ikut terhanyut akan kemahiran Mas Anas dalam menuturkannya.
"Pinter banget sih Mas Anas ini. Pantesan anak-anak pada suka dan sayang sama dia. Kalo sama aku nggak sebesar itu deh perasaan mereka." Rasa iri diam-diam menyelinap masuk ke hati. Iri pada sebuah kebaikan boleh kan ya?
Tak terasa jam mengajar sudah kelar. Sebelum menuju microphone untuk adzan, Mas Anas kembali mendekatiku.
"Tunggu sebentar lagi ya, saya adzan dulu. Nggak usah sampai selesai isya. Kasian kamu kalo kelamaan nunggu."
"Oh iya, terima kasih."
Aku beringsut menuju teras masjid. Mengisi waktu dengan memandangi beberapa ibu yang berlalu lalang di seputaran tempat sandal dan tempat wudhu. Menunggu adzan usai, sembari menikmati suara sang muadzin yang -masya Allah- sangat merdu.
"Mbak Azki," suara merdu yang baru saja melantunkan adzan kini melantunkan namaku. Eaaa.
"Oh, eh, i-iya gimana?" Sedikit kaget, aku segera berdiri agar tak terlalu jomplang dengannya.
"Emm, ini buat Mbak Azki. Tolong diterima ya. Buat dibaca dan dipelajari, insya Allah akan bermanfaat suatu hari nanti. Kalo ada yang nggak paham, boleh tanya ke saya, insya Allah saya bantu sebisanya." Sebuah paperbag warna coklat susu berpindah ke tanganku. Kulirik sekilas, beberapa buku terlihat di dalamnya.
Aku tak berniat menolak, karena kupikir ini pasti sudah diniatkan olehnya, jadi yang dia harapkan tentu saja aku menerima. Bukan sebaliknya.
"I-iya, insya Allah. Terima kasih banyak."
"Sudah, itu saja. Kamu langsung pulang ya. Hati-hati. Assalamualaikum."
KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan Marbot Biasa
Художественная прозаMeskipun rumahnya di seberang masjid, Syarifa Tazkiya (Azki) hampir tak pernah salat di sana. Hingga suatu hari, ia terpaksa harus mengantarkan keponakannya untuk mengaji di masjid seberang rumahnya. Di sana ia bertemu guru ngaji keponakannya. Azki...
