18. Berubah Pikiran

6.6K 817 70
                                        

Enam dari sepuluh hari telah terlalui. Sungguh, mempersiapkan pernikahan ternyata tak seperti menggoreng tahu bulat. Iya, nggak bisa dadakan gitu. Sedangkan kami, semua serba mendadak. Kami bahkan sedikit menggeser tanggal pernikahan. Terpaksa, demi menyesuaikan waktu mengurus ini itu serta jadwal petugas KUA-nya.

Tak hanya itu, di setiap hierarki yang kami lalui, kami harus ikhlas diceramahi. Mulai dari Pak RT, Pak RW, petugas kelurahan, sampai petugas KUA semua ngomelin kami panjang lebar. Beruntung, Pak RT dan Pak RW kenal baik dengan Mas Anas. Beberapa orang di KUA pun mengenal Mas Anas, mereka bahkan terlihat menaruh hormat karena memanggilnya dengan sebutan Ustadz. Ini cukup membantu kelancaran pengurusan birokrasi dan dokumen pernikahan kami.

By the way, jangan bayangkan aku pergi ke mana-mana berdua sama Mas Anas ya. Kami pergi masing-masing dan janjian ketemu di lokasi. Ya memang masih harus begitu. Kata Mas Anas 'meskipun udah pengen ke mana-mana bersama, tapi tetep harus ditahan dulu sampai tiba waktunya'. Hehe.

Seperti biasa, usai salat isya aku bersiap pulang. Aku sedang menunggu Mas Harits dan Hanafi ketika Mas Anas menghampiriku dan menyampaikan sedikit hal berkaitan persiapan pernikahan kami.

"Lho, Mbak Azki tadi masih ikut ngajar to? Bukannya udah berhasil menggaet Mas Anas?" Pak Sukri mendadak muncul di dekat kami.

"Astaghfirullah, gitu amat sih tuduhannya. Nggak berdasar. Dikira aku ikut ngajar cuma karena mau menggaet Mas Anas gitu? Dih, jahat bener."

Sumpah. Selain kaget, aku juga sakit hati banget. Mas Anas pun menampakkan keterkejutan yang sama.

"Mari, Pak. Kami duluan, saya mau nganter Azki pulang." Mas Anas menarik tanganku tanpa persetujuan. Segera kutepis begitu aku sadar tiga detik berikutnya.

Hatiku lantas berantakan. Antara sedih dengan ucapan Pak Sukri, sekaligus deg-degan karena Mas Anas memegang tanganku, meski tak bersentuhan skin to skin, dan itu pun langsung kutepis.

"Udah, nggak usah dipikirin yang begitu-begitu. Aku ngerti kok kamu udah capek mikir persiapan kita. Mending kamu mikir yang seneng-seneng aja. Mikirin gimana sesudah kita nikah nanti, misalnya."

"Apaan sih?!"

"Nah kalo udah nikah nanti yang ada kan pasti cuma seneng."

"Kata siapa?"

"Kataku dong. Karena aku janji, kamu akan selalu happy di sampingku."

"Dih, pede. Namanya berumahtangga itu pasti ada riak-riaknya. Nggak mulus-mulus aja."

"Kemungkinan itu pasti ada. Tapi aku akan pastikan, apapun yang ada di depan kita nanti, kita akan hadapi dengan bahagia."

"Mas pinter nggombal ya ternyata."

"Nggombal gimana, ini serius tau."

"Iya deh iya, tapi Ki capek, Mas. Mas pulang aja ya, Ki mau istirahat."

"Iya. Maaf ya, Ki."

"Kenapa minta maaf?"

"Karena aku yang minta cepet-cepet, jadi kamu capeknya dan mikirnya juga berlipet."

"Enggak pa-pa, insya Allah Ki senang kok."

"Alhamdulillah. Ya udah, aku pamit dulu. Assalamualaikum."

"Waalaikumussalam."

Sampai di kamar, kutaruh mukena pada tempatnya. Selanjutnya kusambar guling dan menelungkupkan badan di atas karpet sambil memeluknya. Kedua tangan menggenggam gawai, scrolling tanpa tujuan. Hanya ada kegalauan yang datang tanpa diundang.

[Mas, maaf. Kl sy berubah pikiran gimana ya?]

Kukirimkan sebuah pesan untuk Mas Anas. Tak sampai lima menit, sebuah panggilan masuk ke HP-ku. Kureject. Lalu sebuah pesan menggantikannya.

Bukan Marbot BiasaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang