Sejak Mas Harits pulang, ia dan Mas Anas jadi sering ngobrol. Di masjid, mereka berdua sering terlihat berdiskusi tentang Islam dengan serius. Kadang bertiga dengan Hanafi, yang memandang kedua pria dewasa itu dengan binar-binar keingintahuan sekaligus kekaguman.
Beberapa kali juga Mas Anas main ke rumah, dan kalau sudah begitu mereka bisa lupa waktu. Aku nggak pernah nimbrung sih, cuma kadang suka nguping kalau pas Mas Anas main ke rumah, mereka bicara tentang apa saja. Kalo istilah ibu ipoleksosbudhankam lah pokoknya. Kecuali gosip artis, paling banter ya ngegosipin aku.
Malam ini pun demikian. Mereka berdua asyik diskusi sambil main ular tangga. Serius! Sesepele itu sambilan mereka untuk topik yang terkadang berat di telinga. Telingaku tentu saja. Mungkin obrolan orang pintar memang terdengar berat untuk orang non pintar macam aku ini.
"Ki, udah tidur?" Mas Harits mengetuk pintu kamarku. Kupakai jilbab seadanya sebelum wajahku nongol di balik pintu.
"Belum. Mau disuruh apa?"
"Hehe, masih ada jajan apa ya, Ki?"
"Sebentar, Ki liat dulu." Aku keluar, melewati Mas Anas tanpa sedikit pun menoleh.
Tak berapa lama, aku muncul dari dapur membawa sepiring pisang dan singkong goreng panas bertabur keju plus pasta cokelat. Juga dua cangkir besar cokelat panas. Menaruhnya di meja dan bersiap pergi.
"Makasih ya, Ki. Maaf ngerepotin kamu."
"Nggak pa-pa kali, Mas, biasanya juga gimana. Basa-basi segala."
"Eh dasar bocah! Sini, Ki ikut ngobrol." Mas Harits menahanku. Matanya menatapku lembut, membuatku tak kuasa menolak permintaannya.
"Ki, kamu tau kan, sesama muslim nggak boleh diam-diaman lebih dari tiga hari?"
"Itu kalo sejenis, Mas. Kalo kami berlawanan jenis, malah nggak pa-pa kalo diem-dieman. Kalo ngobrol berdua-duaan baru nggak boleh." Sekuat tenaga kutahan diriku agar tak sewot.
"Kamu ya, selalu aja punya jawaban kalo dikasih tau." Diacaknya rambutku yang tertutup jilbab biru. Mas Anas senyum-senyum melihat kami.
"Bukan begitu. Kan memang nggak ada yang mau diomongin sama dia, jadi ya udah diem aja."
"Dia? Dia siapa?" Aku tak menjawab, hanya pipiku terasa menghangat. Aku menunduk. Malu.
"Mbak Azki, tolong maafin saya ya." Mas Anas turut bicara.
"Huh, sok santun amat. Biasanya juga Ka Ki Ka Ki!"
"Hemm."
"Dek, yang sopan to." Mas Harits mengingatkan.
"Nggak pa-pa, Mas. Memang saya pantes dicuekin sama Mbak Azki. Saya yang salah kok." Mata kami bersirobok, cepat-cepat kualihkan pandang ke arah lain.
"Duh gawat, kenapa pake deg-degan segala. Kan lagi benci sama dia."
"Syukur deh kalo nyadar," gerutuku.
"Azki, jangan gitu lah." Mas Harits mengingatkanku lagi.
"Ya udah deh, Mas. Ki mau nyelesein tugas," pamitku, dan segera masuk kamar tanpa menunggu kata setuju.
Tak lama kemudian Mas Anas pamit pulang. Tanpa diminta, aku keluar dari kamar. Membawa piranti makanan dan minuman dari ruang tamu ke dapur, mencucinya dan membersihkan dapur sebelum tidur.
"Belum tidur, Ki?" Usai mengunci pintu, Mas Harits menyusulku ke dapur.
"Udah. Ini nyuci piringnya ngelindur kok," sahutku asal. mas Harits tertawa. Lagian, udah tau pakai nanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan Marbot Biasa
Fiksi UmumMeskipun rumahnya di seberang masjid, Syarifa Tazkiya (Azki) hampir tak pernah salat di sana. Hingga suatu hari, ia terpaksa harus mengantarkan keponakannya untuk mengaji di masjid seberang rumahnya. Di sana ia bertemu guru ngaji keponakannya. Azki...
