“Dua orang yang saling mencintai karena Allah. Mereka berkumpul dan berpisah dengan sebab cinta karena Allah.” (HR. Bukhari no. 660 dan Muslim no. 1031)
***
Terminal tiga ultimate bandara Soekarno Hatta menunjukkan kesibukan luar biasa. Kesibukan yang seakan tiada hentinya, seperti jadwal penerbangan internasional yang juga tak ada habisnya.
Pesawat berbendera Saudi yang akan membawa Mas Anas menuju King Khalid International Airport dijadwalkan terbang pukul 13.30. Aku menengok jam tangan yang melingkar di pergelangan kanan, masih ada setengah jam sebelum Mas Anas ke gate pemberangkatan.
Kami sekeluarga menunggu di salah satu executive lounge. Tangan Mas Anas tak sedetik pun lepas menggenggam jemariku, ia bahkan tak sesenti pun bergeser dari duduknya. Sama sekali tak tertarik untuk mengambil kudapan atau minuman yang tersedia, kecuali aku yang minta.
Sesekali ibu mengambilkan kudapan untuk putra bungsunya itu.
"Ki."
"Hemm."
"Jaga sholatnya ya, Sayang. Walaupun masih berat buat aktivitas, khusus sholat usahakan untuk selalu tepat waktu seperti biasanya. Sisanya buat istirahat gak pa-pa. Sambil baca Al Quran. Kalo udah mulai kuat, nggak muntah dan lemes lagi, qiyamul lailnya dimulai lagi ya. Doakan aku di sana.
"Kamu kuat ya, Sayang. Jaga diri baik-baik, jaga anak-anak kita baik-baik. Sementara tinggal di Kajen dulu aja, di sana banyak yang bantu, jadi kamu nggak usah malu-malu, pekewuh, dan sebagainya. Santai pokoknya. Enjoy. Karena di sana juga rumahmu."
"Iya, Mas Sayang. Udah berapa kali coba Mas ngulangin pesen ini ke Ki? Ki udah hapal di luar kepala semua pesan dari Mas."
"Maaf ya, Ki. Soalnya aku udah kehabisan kata, nggak ngerti mau ngomong apalagi." Mas Anas merangkulku, menyandarkan keningnya di bahu kananku. Dia menangis. Lagi.
"Ssstt, malu ah, Mas."
Gawai Mas Anas berbunyi, rupanya pesan dari teman-teman seperjalanan menuju Saudi. Sebagian besar dari mereka hanya akan transit di Riyadh untuk kemudian melanjutkan flight ke Madinah. Aku turut membaca pesan itu.
[Kak Anas. 10 menit lagi di meeting point ya. Syukron]
Dia membalas singkat, mengiyakan. Menyimpan gawai dalam saku celana, lalu berdiri menyiapkan koper dan ranselnya. Setelahnya ia berlutut di depanku, menggenggam erat kedua tanganku.
"Syarifa Tazkiya, zawjati. Terima kasih, Sayang. Terima kasih sudah mau menerimaku. Terima kasih telah berpayah-payah mengandung penerus nasabku, juga untuk segala keikhlasanmu melepasku. Ini tak mudah, tapi yang kamu lakukan di saat-saat ini sungguh sangat menguatkan aku.
"Maafkan aku ya, Ki. Maafkan kalau selama bersama masih banyak kekuranganku. Kurang baik dalam membimbingmu, mempergaulimu, membahagiakanmu. Seandainya boleh memilih, sungguh aku ingin tetap di sini bersamamu. Tapi ...."
"Ssstt, Ki udah janji untuk nggak nangis waktu Mas pergi. Kalo Mas gini terus, Ki mau tarik lagi janji Ki kemarin."
"Iya, Sayang. Maafkan aku."
“Dua orang yang saling mencintai karena Allah. Mereka berkumpul dan berpisah dengan sebab cinta karena Allah.
"Semoga kita berdua termasuk diantaranya, yang dikumpulkan dan dipisahkan, oleh sebab cinta karena Allah."
Aku mengangguk. Meraihnya dalam pelukanku. Tak ada tangis dariku, walau hanya sebulir bening yang mengalir. Aku kuat. Karena setelah ini aku masih bisa menangis sepuasnya. Ada pelukan ibu mertua, ada ibu, ada kakak-kakakku. Tapi tidak dengannya. Selepas ini ia benar-benar menahan sesaknya kerinduan seorang diri, tanpa kehangatan sebuah pelukan yang menemani.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan Marbot Biasa
Ficción GeneralMeskipun rumahnya di seberang masjid, Syarifa Tazkiya (Azki) hampir tak pernah salat di sana. Hingga suatu hari, ia terpaksa harus mengantarkan keponakannya untuk mengaji di masjid seberang rumahnya. Di sana ia bertemu guru ngaji keponakannya. Azki...
