Sejak kejadian malam itu, aku mulai satu dua kali ikut salat berjamaah di masjid. Sebenarnya hati ingin melakukannya setiap kali datang waktu salat, tentunya saat aku ada di rumah. Tapi logikaku berkata lain. Aku harus jaga imej. Kalo mendadak rajin ke masjid, pasti ibu dan Mbak Nina curiga dan menuduh niatku ke masjid karena si marbot ganteng yang suaranya kaya sekoteng. Menghangatkan hati yang sendiri. Dih, maksa.
Meski begitu, diam-diam aku rajin mengamati aktivitas di masjid tersebut. Maksudku aktivitas Mas Anas tentu saja. Beruntung, kamarku ada di sisi yang berseberangan dengan masjid. Jendelanya pun sebagian dari kaca sehingga kekepoanku bisa kutuntaskan dengan lebih leluasa.
Tolong dimaklumi ya, aku ini memang jarang ketemu cowok, apalagi yang ganteng. Soleh pula. Jadi ya begitulah, aku jadi agak norak. Meski aku berusaha rapat-rapat menyembunyikannya.
Semakin hari aku semakin dilanda galau. Kayanya aku mulai jatuh hati sama Mas Anas. Tapi sisi hatiku yang lain menjerit. Pekerjaan Mas Anas yang 'cuma' jadi marbot masjid kayanya kurang memenuhi syarat untuk menjadikannya masuk kriteria suami-able. Setidaknya kriteria yang aku bikin untuk diriku sendiri.
"Duh, kenapa dia nggak ngelamar jadi model atau artis sinetron aja sih. Kan sayang, potensi kegantengannya jadi terlewat begitu saja. Malah milih jadi marbot. Eh, ato jangan-jangan dia nggak tau gimana caranya nyemplung ke dunia artis. Kalo itu sih aku nggak tau juga. Tapi mbok ya jangan cuma jadi marbot. Sayang." Hatiku ikut protes.
***
Malam itu aku nggak lagi menemani Hanafi ke masjid karena Mbak Nina sudah sembuh dan sudah diijinkan pulang, jadi Hanafi ke masjid sama ibu. Sebenarnya aku ingin menawarkan diri untuk mengantar Hanafi seperti tiga hari kemarin, tapi gengsi dong. Sudah gitu, ibu yang biasanya mengajak dan menceramahiku untuk salat di masjid, tumben malam itu diam saja.
Hatiku jadi bertanya-tanya, kok gini ya? Pas belum dapat hidayah, ibu nggak bosen-bosen ngejar aku buat ke masjid. Pas udah dapat hidayah, eh malah gak diajakin. Ya udah, Ki, harap sabar ini ujian.
Eh tunggu. Hidayah ya? Apakah hidayah bisa datang melalui rupa seseorang. Atau jangan-jangan aku yang ge-er? Yang kukira hidayah ternyata malah cara setan menggoda agar hatiku goyah?
"Astaghfirullah. Audzubillahi minassyaitonirrojiim," gumamku segera.
"Assalamualaikum," suara ibu muncul dari arah pintu.
"Waalaikumussalam. Lho, ibu nggak ngaji? Kok belum selesai isya udah pulang? Kebelet ya?" godaku.
"Iya nih, kebelet manggil kamu."
"Lah, emang ada apa manggil Azki? Apa kang nasgor yang lama tak bersua kini telah kembali membawa cinta?"
"Hih, kamu tu ya, gak pernah jelas kalo diajak bicara." Ibu menoyor kepalaku sebelum kembali bicara.
"Kamu dicariin sama Nak Anas. Katanya ada yang penting yang mau disampaikan. Nanti isya salat di masjid ya."
"Duh, gimana yaaa. Seberapa penting sih, sampe Ibu bela-belain pulang cuma mau kasih tau kabar beginian?"
"Emm, iya deh, Bu. Perintah ibu kan gak boleh dibantah. Takut dosa akutu."
Aku sok jual mahal, padahal dalam hati bersorak gembira. Bukan aku lho yang usaha pengen ketemu sama Mas Anas. Tapi Mas Anas yang ngajakin aku ketemuan. Tolong catat baik-baik ya, Rosalinda!
"Halah, sejak kapan kamu nggak bantah perintah ibu? Biasanya diajakin ke masjid juga kebanyakan alesan."
"Sejak... sejak sesaat sebelum negara api menyerang, Bu," sahutku asal
"Azkiii!" suara ibu melengking mengerikan. Aku terbirit-birit lari ke dapur, mengecek kalau-kalau ada gelas atau piring yang pecah gara-gara suara ibu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan Marbot Biasa
General FictionMeskipun rumahnya di seberang masjid, Syarifa Tazkiya (Azki) hampir tak pernah salat di sana. Hingga suatu hari, ia terpaksa harus mengantarkan keponakannya untuk mengaji di masjid seberang rumahnya. Di sana ia bertemu guru ngaji keponakannya. Azki...
