Mas Anas pulang kembali ke masjid. Aku yang memang nggak ngantuk makin nggak bisa tidur. Kira-kira Mas Anas beneran mau jelasin lewat whatsapp nggak ya?
[Assalamualaikum, Mbak Azki. Ini Anas, yg td dtg ke rumah tapi ditinggal tidur pura2]
[Nggak lucu]
[Waalaikumussalam]
[Memang kamu selalu telat jawab salam ya?]
[Gak penting. Gak usah dibahas]
[Jadi apa yang mau kita bahas?]
[Gak ada]
[Tadi katanya Azki mau selesein lewat japri]
[Aku mengundurkan diri. Anggap aja udah selese. Titik!]
[Baiklah kalo begitu]
Lho lho lho, kok gitu sih. Duh, aku kan cuma ngambek pura-pura. Dasar laki-laki, apalagi yang alim macam begini, nggak pernah ngadepin cewek ngambek. Nggak bisa mengerti kebiasaan dan kemauan perempuan.
Semenit, lima menit, sepuluh menit....
[Aku di depan rumah. Mau aku bertamu lagi, atau kita selesaikan beneran urusan pengunduran diri kamu?]
Astaghfirullahaladziim. Kuintip dari balik tirai kamar, Mas Anas beneran ada depan rumahku. Duh, kan jadi nggak enak juga sama pak satpam.
[Maaf, Mas Anas maunya apa sih?]
[Saya maunya kejelasan tentang pengunduran diri Mbak Azki. Terus terang saya keberatan. Kasian juga anak2 kl nggak kepegang semua]
[Oke, saya bertamu lagi ya]
Lalu terdengar salam dari balik pintu. Ibu yang memang belum tidur segera membukakan pintu.
"Waalaikumussalam. Lho nak Anas lagi. Gimana?"
"Maaf, Bu Wahid, saya mau ketemu Mbak Azki. Beliaunya belum tidur kok, Bu. Barusan masih whatsappan sama saya. Maaf ya, Bu, tapi saya butuh kejelasan kenapa Mbak Azki mau mengundurkan diri."
"Asem banget lah marbot satu ini. Mau menghindar gimana lagi coba? Malu deh sama ibu," gerutuku. Laki-laki yang tampaknya alim dan soleh satu itu ternyata bisa nekat dan menyebalkan juga. Huh!
"Oh, sebentar ya." Mendengar jawaban ibu, aku terpaksa duduk di tepi ranjang, nggak bisa berpura-pura lagi sama ibu.
"Iya, Bu. Ki belum tidur kok. Tunggu sebentar," jawabku begitu pintu terbuka dan wajah ibu muncul di baliknya.
Kupakai jilbab asal saja. Dan segera keluar setelah menghabiskan separuh air di botol minumku.
"Sini, Ki. Ada apa sih sebenernya? Kasian lho nak Anas sampe bolak balik. Kalo kamu memang masih suka ngajar, ya kenapa mengundurkan diri?" Ibu menarikku duduk di sebelahnya.
"Eh, eng-enggak kok, Bu. Ki b-belum fix mau mengundurkan diri kok."
"Ya udah, selesein dulu sama nak Anas. Ibu tak ke belakang."
"Maaf, Bu Wahid. Kalo ibu ndak sibuk sebaiknya ikut nemenin kami ngobrol, nggak enak kalo cuma berdua." Mas Anas meminta ibu dengan serius.
"Dyarrr... Maunya apa sih ini orang? Fixed, aku ilfil berat sama marbot satu ini. Kalo terbongkar kan aku malu."
Aku melotot ke arahnya, dia melihatku dan malah menahan tawa. Ya Allah, cobaan apa lagi ini?!
"Sebenarnya saya sendiri bingung, kenapa Mbak Azki tiba-tiba mau mengundurkan diri. Tapi tadi beliau bilang, kalo mbak yang dari Mesir sudah siap ngajar anak-anak, dia minta dikabari saja untuk mengundurkan diri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan Marbot Biasa
Algemene fictieMeskipun rumahnya di seberang masjid, Syarifa Tazkiya (Azki) hampir tak pernah salat di sana. Hingga suatu hari, ia terpaksa harus mengantarkan keponakannya untuk mengaji di masjid seberang rumahnya. Di sana ia bertemu guru ngaji keponakannya. Azki...
