Sungguh, aku tuh lemah kalau suruh kasih judul.
-------
Hai, ketemu lagi sama Anas-Azki. Ada beberapa revisi di beberapa part sebelumnya, kapan-kapan deh kujelasin, kalian selesaikan dulu aja baca part ini. Hehe...
Okey, enjoy reading :)
-------
Hampir dua pekan Mas Anas jauh dariku. Selama itu pula kami tak pernah lepas berkabar. Tak hanya satu dua kali sehari, tapi berkali-kali. Aku selalu menghujaninya dengan pesan, mungkin setiap hitungan menit sekali. Sedangkan dia, membalasnya hanya saat tidak ada kesibukan. Kebiasaan perempuan dan laki-laki memang begini ya.
Untungnya aku sudah terbiasa melihat Mas Harits dengan Mbak Nina saat menjalani hubungan jarak jauh. Dulu aku berpikir, betapa jarangnya Mas Harits membalas pesan-pesan Mbak Nina. Sekarang baru kusadari, bukan Mas Harits yang jarang membalas, tapi Mbak Nina yang kirim pesannya terlalu banyak dan sering, sedangkan kakakku di sana kesibukannya mungkin melebihi banyaknya pesan yang dikirim istrinya.
Dan, emm, begitupun dengan aku saat ini. Ah, aku jadi malu. Dulu selalu ikut bete sama Mas Harits, tapi tak ketinggalan pula meledek Mbak Nina. Kukatakan padanya, 'Kasian deh, Lo!'. Mungkin kalau Mbak Nina tahu keadaanku sekarang, dia akan berkata 'Tau rasa kan sekarang?!'. Untung saja aku masih di rumah bapak ibu Kajen, jadi terbebas dari ejekan Mak Lampir kesayangan.
Ya, sudah hampir dua pekan aku stay di rumah mertua. Sama sekali tak ada sungkan atau perasaan tak nyaman. Aku sangat kerasan di Pekalongan. Selain bapak ibu yang menyayangiku seperti anaknya sendiri, kakak, kakak ipar, dan para keponakan Mas Anas juga sering datang sehingga aku tak pernah merasa kesepian. Keberadaan Mbak Ndari dan kedua orang tuanya yang membantu di rumah ini juga sangat efektif menjaga mood dan kondisi fisikku sehingga tak homesick dan kangen pada ibu serta keluargaku.
Aku bahkan sudah mulai turun kembali ke dapur. Satu hal yang selalu bikin Mas Anas ribut. Bukan karena khawatir aku kecapaian, tapi karena dia sedih nggak bisa menikmati masakanku. Aish, lebay sekali memang suamiku.
Seperti petang itu. Maghrib baru saja berlalu, pesan dari Mas Anas kuterima setelah hampir setengah hari tak membaca kabar darinya.
[Sayang, lagi apa? Maaf ya aku br selesai kegiatan. Pekan depan insya Allah mulai perkuliahan. Aku kangen]
[Ki juga kangen. Ini baru habis bikin pukis buat anak pesantren. Sama bikin susu jahe buat di rumah]
Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit .... Masa iya, baru saja waktunya luang terus kembali menghilang.
[Mas, kok gak dibales lg sih? Mas sibuk lg ya?]
Lima menit kemudian, satu panggilan video kuterima.
"Assalamualaikum, Mas Sayang. Kok ngilang? Kemana? Katanya kangen sama Ki?"
"Nggak usah ngobrolin masakan lagi ya, Sayang? Aku nggak kuat. Rasanya pengen nangis kalo kangen masakan kamu."
"Dih, mulai deh drama."
"Kok gitu? Kangen sama orangnya aja nggak pengen nangis, masa iya kangen masakannya jadi pengen nangis. Jadi Mas tuh sayangnya sama Ki apa sama yang lain-lainnya?"
"Udah ah, ganti topik aja ya. Oya, beberapa hari ini aku sudah coba cari rumah yang disewakan. Kamu maunya yang seperti apa, Ki? Landed house atau apartemen?"
"Bebas, Mas. Ki ikut aja. Yang paling murah yang mana?"
"Yaelah, Ki. Yang paling nyaman kek, masa nanyanya yang paling murah sih."
KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan Marbot Biasa
General FictionMeskipun rumahnya di seberang masjid, Syarifa Tazkiya (Azki) hampir tak pernah salat di sana. Hingga suatu hari, ia terpaksa harus mengantarkan keponakannya untuk mengaji di masjid seberang rumahnya. Di sana ia bertemu guru ngaji keponakannya. Azki...
