Hari Ahad seharusnya paling pas buat gegoleran di kasur. Bermalas-malasan sambil main HP atau baca buku dan dengerin lagu-lagu. Agenda mandi pagi pun diskip bila perlu. Eh, itu aku!
Tapi tidak Ahad ini. Pengurus masjid mengadakan kegiatan kerja bakti. Bersih-bersih masjid tentu, masa iya bersih-bersih rumahku.
Sebenarnya aku malas ikut, tapi sebagai salah satu manusia yang sekarang terdaftar sebagai bagian dari keluarga besar masjid depan rumah, mau absen kok aku agak merasa bersalah. Minimal aku bikin jajanan dan minuman untuk menemani squad bersih-bersih saat istirahat melepas lelah. Maka sejak lepas subuh aku telah karib dengan dapur dan segala adonan.
Ibu dan Hanafi sudah bersiap membawa pengki dan sapu lidi saat aku masih berkutat dengan panci terakhir bolu kukus serta dua teko berisi es sirup dan teh hangat yang semanis aku. Oke.
"Masih lama, Ki?"
"Dikit lagi, Bu. Mau dibawa ibu separonya?"
"Boleh deh. Apa yang udah siap?"
"Ini, bakwan jagung sama minumannya udah siap semua, Bu. Ibu bawa bakwannya aja, nanti minuman sama bolunya biar Ki yang bawa," jawabku sambil menyodorkan baskom yang dipenuhi bakwan jagung.
"Bisa bawa segitu banyak?" Ibu meragukan kemampuanku. Tapi memang aku nggak mampu sih. Hehe.
"Ya jelas nggak bisa dong, Bu. Kan tangan Ki cuma dua. Nanti bolak balik aja gak papa."
"Ya udah, buruan berangkat kalo udah ready." Jiah, udah ready kata ibu. Mentang-mentang anaknya di Inggris trus ibunya ikutan nginggris gituuu?! Plis deh.
"Siap, Bos. Ki mandi dulu deh. Berantakan gini, bau asep sama minyak."
"Tumben. Biasanya kalo libur gini Tante nggak pernah mandi. Ini mau kerja bakti malah mandi. Aneh," celetuk Hanafi. Tepat sasaran! Ponakanku ini memang paling jago ngeledek tantenya.
"Hih, dasar kamu, Han. Kecil-kecil bawel!"
Tak kupedulikan lagi Hanafi, bergegas menyambar handuk dan baju ganti, lalu byar byur di kamar mandi. Ah, segarnyaaa.
Selesai mandi, kupoles wajah dengan pelembab dan bedak tipis-tipis, tak lupa lipbalm rasa stroberi biar bibirku tak mengering seperti hatiku. Emm, gimana ya..., ini pertama kalinya aku akan bertemu Mas Anas di siang hari. Itu juga kalau ketemu sih, kan pasti banyak orang di sana. Biasanya kami cuma ketemu malam hari saat ngajar ngaji. Ya mirip-mirip vampire gitu lah, tapi kalau kami vampire syar'i. Uhuks.
Menenteng tiga toples besar berisi bolu kukus, dan satu teko besar es sirup, aku siap melangkah gagah menuju masjid seberang rumah.
"Ya Allah, Mbak Azki, mbok bilang sama saya lak yo tak bantuin. Sini-sini, Mbak, biar saya yang anter ke mesjid." Dari pos satpam, Pak Dar tergopoh merebut bawaan dariku.
"Alhamdulillah. Makasih ya, Pak. Saya jadi nggak perlu bolak balik."
Kembali masuk rumah dan keluar lagi dengan satu teko teh manis dan toples bermuatan 20 cup puding untuk anak-anak yang turut berpartisipasi dalam kerja bakti.
Sampai di teras masjid aku melihat jajanan dan minuman yang cukup melimpah. Rupanya warga sekitar menghayati betul sepetik bagian dalam ayat 148 surah Al Baqarah yang berbunyi fastabiqul khoirot, maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Salah satunya dengan membawakan jajanan dan minuman.
Dengan tangkas aku membagi-bagi jajanan dan minuman dalam beberapa wadah, kemudian menaruhnya di beberapa titik persebaran peserta kerja bakti.
Baru saja hendak mengantar jajanan dan es sirup di sudut selatan masjid, tempat bak pembakaran sampah berada, mataku menangkap sebuah pemandangan yang bikin nyesek.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan Marbot Biasa
Ficción GeneralMeskipun rumahnya di seberang masjid, Syarifa Tazkiya (Azki) hampir tak pernah salat di sana. Hingga suatu hari, ia terpaksa harus mengantarkan keponakannya untuk mengaji di masjid seberang rumahnya. Di sana ia bertemu guru ngaji keponakannya. Azki...
