Rencana belanja di toko furniture kondang asal Swedia akhirnya terwujud setelah sepekan aku di Riyadh. Selama itu juga aku lebih banyak gegoleran di kasur. Mood untuk turun ke dapur juga belum kembali normal. Beruntung, Mas Anas sangat pengertian. Meskipun kadang terlihat kesal, tapi dia masih bersabar.
Menurut Mas Anas, aku terlalu banyak membuang waktu. Harusnya bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat daripada cuma rebahan. Tapi aku ngeyel, kadang ngambek, atau kudiamkan dia berjam-jam. Dikira hamil itu enteng apa? Huh.
Hampir seharian kami berkeliling mencari perabotan. Pada akhirnya nyaris setiap item yang kami beli adalah pilihannya, kecuali perabotan yang berhubungan dengan dapur tentu saja. Tahu begitu kan dari kemarin biar dia saja yang pergi belanja sendiri, aku tinggal tahu beres.
"Alhamdulillah, udah lengkap semua ya, Ki. Tinggal nunggu diantar, terus kita nata rumah berdua. Masya Allah, aku udah nggak sabar nunggu moment ini. Kayaknya romantis banget ya, Ki."
Mas Anas terlihat sangat happy. Kami sudah selesai berbelanja, tinggal menunggu barang-barang yang agak besar diantar. Tentu saja menunggu sambil duduk manis di rumah, bukan di store-nya.
"Tapi Ki capek, Mas. Nanti izin rebahan lagi boleh ya? Satu dua hari deh."
"Heh, rebahan lagi? Kemarin udah sepekan lho, Ki, masa iya habis belanja sehari istirahatnya harus sepekan lagi sih? Sayang waktunya kan, Ki?"
"Bukan sepekan, Mas, cuma satu dua hari aja."
"Ya tapi kan sayang waktunya, Ki."
Aku bukan lagi merasa kesal, tapi sudah bergeser menjadi KZL. Kezel!!
"Mas kok gitu sih? Ki kan lagi hamil. Ini tuh udah enam bulan, Mas. Kembar pula. Berat. Ki capek. Kan nggak semua orang harus seperti Mas. Yang nggak pernah punya capek, yang selalu memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, yang semua-muanya mesti ideal."
Mataku rasanya panas. Ada mendung yang terpaksa kutahan agar tak turun menjadi hujan deras. Aku berdiri, melenggang ke kamar tanpa bicara lagi. Tak kupedulikan Mas Anas yang masih duduk di meja makan.
Di atas bed yang empuk aku meringkuk. Kubiarkan air mata berlelehan. Punya suami yang segala sesuatunya ideal ternyata ada menyebalkannya juga. Aku jadi kangen sama ibu dan Han, dua orang yang selalu menjadi penghibur dan penenang saat aku merasa kesal. Walaupun kadang Hanafi sendiri yang bikin aku sebal.
Ceklek. Suara handle pintu terdengar. Pasti Mas Anas. Aku memilih berpura-pura tidur saja. Lagi malas ngobrol sama dia.
Satu sosok mendekat, kutahan mataku agar tetap terpejam rapat.
Ia berhenti. Sepertinya berjongkok di depanku, sebab embusan napasnya terdengar sangat dekat.
"Ki. Maafkan aku." Tangannya mengusap mataku, lalu hidungku. Mengeringkan basah yang ada di situ.
Sedikit pun mataku tak terbuka. Tapi bening yang mengalir malah makin deras saja.
"Maafkan aku ya, Sayang. Aku kurang sabar, kurang empati sama keadaanmu. Kurang mau tahu betapa beratnya membawa anak-anak kita ke mana pun kamu bergerak.
"Maafkan aku ya, Ki. Kadang memang masih terbawa dengan kebiasaan saat masih sendiri. Yang apa-apa harus ideal, tak ingin ada detik yang terbuang, apalagi saat jauh dari orang-orang yang kita sayang. Rasanya setiap waktu harus kita pergunakan sebaik-baiknya, agar keperluanku di sini bisa lebih cepat terselesaikan. Lalu kembali ke tanah air dan membagi ilmu yang sudah aku dapatkan, juga kembali berada di tengah orang-orang yang selalu kita rindukan.
"Sebenarnya aku cuma ingin semua urusan tahap pertama cepat selesai, Ki. Rumah nyaman, kamu nggak merasa kesepian karena bisa menyalurkan hobimu memasak. Aku juga lebih tenang dengan urusan pendidikan dan penelitian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan Marbot Biasa
BeletrieMeskipun rumahnya di seberang masjid, Syarifa Tazkiya (Azki) hampir tak pernah salat di sana. Hingga suatu hari, ia terpaksa harus mengantarkan keponakannya untuk mengaji di masjid seberang rumahnya. Di sana ia bertemu guru ngaji keponakannya. Azki...
