Ahad kali ini beda dengan ahad yang lalu-lalu. Kalau biasanya aku mengisi Ahad dengan rebahan dan guling-guling gak jelas, kali ini sejak pagi aku sudah berkutat di dapur bersama ibu, mempersiapkan hidangan spesial untuk menyambut keluarga calon besan ibu. Ehem, iya, keluarga Mas Anas yang akan datang untuk... melamarku.
Jam sembilan kurang sedikit, aku baru saja selesai mandi. Kukenakan gamis kombinasi batik yang sederhana, kerudung lebar cokelat muda terulur menutupi bagian dada. Bros kupu-kupu bernuansa coklat tua mempermanis penampilan yang terpantul di cermin. Aku tersenyum sendiri.
Aku merasa sedikit berbeda. Mungkin karena wajahku yang tak sepolos biasanya. Mbak Nina yang memaksa untuk memolesku agar tampil agak beda, 'minimal enggak pucat' begitu katanya.
Ting. Gawaiku berbunyi, sebuah pesan dari Mas Anas.
[Ki, keluargaku sudah di masjid. Insya Allah jam 10 tepat kami ke sana. Sdh siap kah? Kl blm kabari ya, biar kami menyesuaikan]
[Sebentar lg siap, Mas. Insya Allah sesuai rencana semula]
[Btw, Mas beneran udah yakin mau ngelamar Ki? Ki takut Mas nanti nyesel. Ki kan orangnya cm ky begini]
[Aku lbh nyesel kl gak bs liat kamu ngambek sm aku lagi, Ki *emoji tertawa]
[Jelek!!!]
Aku kembali senyum-senyum gak jelas membaca pesan dari Mas Anas. Kutengok ke luar jendela, dua Avanza hitam terparkir rapi di halaman masjid. Mungkin itu keluarga Mas Anas.
"Assalamualaikum."
Tepat pukul sepuluh, suara salam terdengar dari teras. Beberapa orang tampak berdiri di depan pintu yang sejak tadi sudah terbuka. Semua mengenakan batik yang seragam, meski dengan model berbeda-beda.
"Waalaikumussalam," jawab kami dari dalam. Mas Harits dan ibu menyambut terlebih dahulu. Aku, Mbak Nina, dan Hanafi di belakang.
Kami semua telah duduk dengan khidmat, siap mengikuti acara yang akan melibatkan kami semua. Kusempatkan mencuri pandang pada Mas Anas, dia melempar senyum padaku.
"Duh, ketauan deh curi-curi pandang."
Dua keluarga berbasa-basi sejenak, menanyakan kabar, berangkat jam berapa, dan sebagainya. Setelah dirasa cukup, salah satu pria yang terlihat paling sepuh dan berwibawa mulai menuju pada inti acara.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi robbil 'alamin, suatu kehormatan bagi kami bisa bersilaturahim dengan keluarga ibu Wahid. Sebelumnya, kami mohon maaf jika rombongan yang kami bawa terlalu banyak. Ini salahnya Anas juga, dia cerita kalau Bu Wahid dan putrinya masakannya enak, jadi selain mau kenalan, kami juga sekalian mau ikut mencicipi masakan Bu Wahid dan putrinya," sambutan bapak Mas Anas tak urung membuat kami semua tertawa.
"Ebuset, bapaknya Mas Anas lucu amat sik."
"Sebelum kami memperkenalkan anggota rombongan yang banyak ini, saya rasa lebih baik kita langsung menuju acara inti dulu saja. Karena saya, dan kita semua pasti tau, ada dua orang diantara kita yang paling deg-degan menunggu acara inti. Jadi kita dahulukan saja supaya acara yang lain bisa berlangsung lebih santai. Yang deg-degan juga sudah agak lega.
"Eh, atau mungkin malah makin deg-degan ya? Soalnya tadi Anas sudah bisikin saya, katanya 'Pak, tolong nanti disampaikan, kalau bisa akad dilaksanakan secepatnya', begitu. Bener yo, Nas?" Lagi-lagi kami semua tertawa. Cuma Mas Anas yang wajahnya berubah memerah.
"Ya Allah, dia bisa kemalu-maluan juga ternyata. Hihihi, lucunyaaa. Mas Anas jadi beda. Aih, aku makin jatuh cinta deh."
"Jadi begini Bu Wahid, saya Abdul Aziz mewakili putra saya, Ahmad Nashiruddin atau Anas, pada kesempatan yang baik ini bermaksud untuk menyampaikan pinangan atau lamaran dari putra saya kepada putri ibu yaitu Mbak Syarifa Tazkiya atau Mbak Azki."
KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan Marbot Biasa
Ficción GeneralMeskipun rumahnya di seberang masjid, Syarifa Tazkiya (Azki) hampir tak pernah salat di sana. Hingga suatu hari, ia terpaksa harus mengantarkan keponakannya untuk mengaji di masjid seberang rumahnya. Di sana ia bertemu guru ngaji keponakannya. Azki...
