Jingga menghias langit-Nya. Indah. Seindah rupa Mas Anas sepulang dari tempat praktek dokter Lia. Senyum bahagia tak sedetik pun lepas dari wajahnya. Tatapan penuh cinta berkali tertuju padaku. Juga jemarinya, berulang menggenggam jari-jariku. Aku? Tentu saja bahagia, tapi jujur saja, aku kembali disapa lemas. Cuma tersenyum lemah sambil memeluk salah satu diantara bantal kecil yang selalu bertebaran di dalam mobil.
Jazz putih yang membawa kami melaju dengan kecepatan sedang, rumah menjadi tujuan. Selain aku yang tak sanggup jika harus mampir-mampir dahulu, Mas Anas juga berusaha untuk tak melewatkan adzan maghrib agar berkumandang dari lisannya. Ya, seniat itu suamiku. Karena malam ini juga, dia --dengan berat hati-- akan menyerahkan jabatan marbotnya pada Rudi.
Saat berbelok memasuki gerbang perumahan, sebuah Vellfire hitam berplat G terparkir di depan rumah. Rupanya bapak ibu dari Pekalongan datang berkunjung tanpa memberi kabar sebelumnya. Mungkin sengaja hendak memberi kejutan.
"Assalamualaikum," salam kami --aku dan Mas Anas-- bersamaan.
"Waalaikumussalam." Yang di dalam rumah pun menjawab serempak.
"Alhamdulillah, maturnuwun ya, Ki." Ibu Mas Anas memelukku.
"Lha ada apa to, Bu?"
"Ya karena kamu sudah bikin Anas bahagia. Kui lho wajahe ketok sumringah ngono." (itu lho wajahnya, terlihat bahagia gitu).
"Mas memang wajahnya selalu begitu deh, Bu."
"Enggak, ini tuh beda. Mungkin karena kamunya juga kelihatan tambah ayu, tambah lemu."
"What?! Sebegitu terlihat gemuk kah aku sampe ibu bilang begitu?"
"Bu, Azki sekarang ni lagi rada sensi dengan kata lemu, gendut, gemuk, dan semacamnya. Tolong kata-kata yang sebangsa itu diganti pakai tuuut gitu aja ya." Para orang tua tertawa, aku tersenyum kecut.
"Huh, dikata insert investigasi pake sensor segala. Kadang-kadang laki satu ini nyebelin banget deh!"
"Mas nih diem aja napa sih!" bisikku. Menghadiahinya dengan satu lirikan sinis.
"Waduh, maaf ya, Ki. Ibu gak ngerti kalo kamu rada sensi. Tapi memang terlihat lebih berisi, padahal baru mau dua bulanan kan ya?"
Kami bergabung bersama para sesepuh, aku duduk di antara ibu dan Mas Anas.
"Iya, Bu. Azki memang badannya lebih berisi dibanding kehamilan sesusianya, soalnya bayinya ada dua," ujar Mas Anas hati-hati.
"APPAA?!"
Duh duh duh, kagetnya kok ya kompak. Bikin kaget orang yang nggak kaget kalo gini sih.
"Maksudmu kalian mau punya anak kembar?!" seru bapak.
"Bayimu kembar, Nas?!" pekik ibu mertuaku.
"Azki hamil kembar?!" teriak ibu.
"Masya Allah, kenapa segini hebohnya sih? Pada ngegas amat." Aku yang sudah lemah jadi makin lunglai saking nggak menyangka dengan respon para tetua.
"Iya, Pak, Bu. Alhamdulillah. Insya Allah kami langsung dikaruniai anak dua. Tapi ini Azki memang rada gampang drop, gampang lemes, jadi maaf ini ijin biar Anas antar ke kamar dulu. Sekalian siap-siap salat maghrib. Nanti habis maghrib kita ngobrol lagi."
"Bapak ibu kalo mau istirahat apa transit biar di kamar kita aja, Mas. Tapi kecil gak pa-pa ya," bisikku disambut anggukan Mas Anas.
Akhirnya cuma ibu yang masuk ke kamarku, bapak beserta Mas Anas langsung ke masjid. Tak lama kemudian, terdengar lantunan adzan nan merdu dari marbot yang akan pensiun dalam hitungan jam ke depan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan Marbot Biasa
Ficção GeralMeskipun rumahnya di seberang masjid, Syarifa Tazkiya (Azki) hampir tak pernah salat di sana. Hingga suatu hari, ia terpaksa harus mengantarkan keponakannya untuk mengaji di masjid seberang rumahnya. Di sana ia bertemu guru ngaji keponakannya. Azki...
