Dhuhur sebentar lagi. Keluarga Abdul Aziz dan keluarga Syarifuddin Wahid telah mencapai kesepakatan tentang hari pelaksanaan pernikahanku dengan Mas Anas. Kapan? Pekan depan!
Bermacam pikiran dan perasaan bercampur aduk dalam diriku. Bayangkan deh, aku yang cewek biasa, masih labil, kuper, anak rumahan banget, lugu, polos dan segala hal enggak banget lainnya, tiba-tiba dihadapkan pada sebuah kata yang begitu sakral, MENIKAH.
Bukan itu saja, calon suamiku, yang kukira 'cuma' marbot plus guru ngaji ternyata seorang dosen, lulusan S2, dan calon mahasiswa program doktoral, di KSA pula. Masya Allah.
"Alhamdulillah. Saya mewakili Anas dan keluarga, mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada keluarga Ibu Wahid. Nak Harits, Mbak Nina, juga Mbak Azki yang sebentar lagi akan menjadi bagian dari keluarga kami.
"Kami sangat lega, karena jujur saja ketika kami baru sampai di masjid pagi tadi, kemudian Anas menunjukkan pada kami, 'itu lho rumahnya Bu Wahid', yang pertama terlintas di pikiran saya itu ya cuma satu, 'pantesan Anas minta buru-buru akad'. Bisa saya bayangkan, calon istri di depan mata, tapi mandang aja bisa jadi dosa. Gimana nggak kesusu ya, Nas?" Sekali lagi bapaknya Mas Anas melempar canda, yang kami sambut dengan tawa.
"Ya Allah, bapak lucu banget sih. Kayanya aku bakal betah deh kalo kumpul-kumpul sama keluarganya Mas Anas nanti."
"Ya kan lebih baik kesusu daripada kesuwen, Pak. Menyegerakan kebaikan kan berpahala, Pak. Apalagi ini sunnah, menggenapkan separuh agama," sahut Mas Anas, dengan mata berbinar.
"Iyo iyo, Nas. Bapak yo ngerti. Wong Bapak yo wis tau ngrasakke kok. Takono ibukmu."
(Iya iya, Nas. Bapak juga ngerti. Orang bapak juga sudah pernah merasakan kok. Tanya aja sama ibumu)
Ibu sampai terpingkal-pingkal mendengar celetukan bapak dan anak tersebut. Dirangkulnya bahuku seraya berkata, "Banyak-banyak bersyukur ya, Ki. Insya Allah kamu termasuk orang yang beruntung."
"Maaf, mungkin acara bisa kita lanjutkan nanti bakda dhuhur. Sekarang sudah menjelang dhuhur, saya tak ijin adzan dulu," sela Mas Anas.
"Masya Allah, Nas. Masih sempetnya mikir adzan, lha mbok tadi minta gantiin yang lain dulu to," ujar salah satu kakak Mas Anas heran.
"Lupa, Mas. Soalnya kalo Ahad memang biasa aku yang adzan lima waktu," jawab Mas Anas sembari meringis, memamerkan geligi rapi yang bikin manis.
***
Setelah salat dhuhur, sejenak kami selonjoran di teras masjid sembari menunggu bapak dan ibu yang sedang berjalan berkeliling masjid. Mungkin beliau ingin melihat area di mana anak kesayangannya menghabiskan hari-harinya.
Aku turut duduk bersama Mas Harits dan keluarga Mas Anas. Ibu dan Mbak Nina pulang duluan karena akan menyiapkan makan siang. Khusus siang ini, aku dibebaskan dari urusan dapur oleh ibu. Alhamdulillah.
Kakak-kakak Mas Anas semua menyambutku ramah, baik kakak kandung maupun kakak iparnya. Kakak kandungnya ada dua, yang pertama bernama Ahmad Imaduddin atau Mas Aim. Yang kedua bernama Ahmad Kamaluddin, dipanggilnya Akmal. Bahkan soal nama pun keluarga ini rada unik. Hehe.
"Nyuwun sewu, apa njenengan Mas Aziz?" Seseorang bertanya pada bapak yang baru saja hendak duduk bersama kami. Pak Sukri.
Bapak tampak mengingat sesuatu sebelum akhirnya menjawab,
"Iya, betul. Njenengan Dik Sukri ya?"
"Masya Allah, Mas Aziz. Masih ingat saya ya. Ada acara apa kok bisa sampai sini lagi?" Beliau berdua lantas duduk di dekat kami.
"Sampe sini lagi? Bapak kenal sama Pak Sukri? Ada cerita apa lagi deh ini? Apa masih mau ada surprise lagi? Duh, lelah hayati!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan Marbot Biasa
General FictionMeskipun rumahnya di seberang masjid, Syarifa Tazkiya (Azki) hampir tak pernah salat di sana. Hingga suatu hari, ia terpaksa harus mengantarkan keponakannya untuk mengaji di masjid seberang rumahnya. Di sana ia bertemu guru ngaji keponakannya. Azki...
