Kami berdua sudah berada di atas pesawat, setelah perpisahan yang menguras tenaga dan air mata. Ibu Kajen bahkan sempat memintaku memikirkan ulang perjalanan ini, alasannya karena kehamilanku yang sudah memasuki bulan keenam.
Ya gimana? Sudah tinggal terbang masa iya disuruh mikir ulang?
Mas Anas berkali meyakinkan ibunya bahwa aku akan baik-baik saja. Bahwa dia akan menjagaku sebaik-baiknya. Iya, percaya!
Maskapai plat merah milik Arab Saudi menjadi pilihan kami. Direct flight sebagai pertimbangan utama, karena kondisiku yang menurut Mas Anas tak memungkinkan untuk transit dan pindah pesawat. Ia pula memilih business class untuk perjalanan kami kali ini. Lagi-lagi kehamilanku menjadi alasan. Aku dan anak-anaknya harus nyaman.
Baiklah. Aku hanya harus bersyukur dan menikmati keberuntunganku kan?
Ini pertama kalinya aku naik pesawat non-economic class. Kalau bukan karena menikah dengan anak sultan, mungkin aku tak akan pernah merasakan seat yang nyaman dengan fasilitas yang juga lengkap. Cuma satu kekurangannya, tempat duduk kami terpisah semacam sekat. Buat aku ini cukup mengganggu, karena aku jadi tak bisa bebas memeluk suamiku sepanjang lebih dari sembilan jam perjalanan kami. Tapi tak mengapa, melihat wajahnya dan merasakan genggaman tangannya sudah lebih dari cukup bagiku.
"Ki, kamu baik-baik aja kan, Sayang?"
"Iya, Ki nggak apa-apa, kok."
"Siap terbang ya?"
"Insya Allah."
"Nggak mual, pusing, atau apa gitu kan?"
"Enggak, Mas ganteng kesayangan. Don't worry."
"Kalau merasa nggak nyaman bilang ya. Mau ke toilet juga bilang. Pokoknya kamu perlu apapun, bilang aja ke aku."
"Iya iya. Udah, Mas tidur aja."
"Tidur gimana? Aku nggak bisa tidur kalau istri dan anak-anakku masih terjaga. Aku kan udah janji sama Ibu Wahid untuk menjaga anak bungsu kesayangannya."
Ah, kenapa bicara tentang ibu sih? Aku kan jadi sedih lagi.
"Maaf. Kamu jadi ingat ibu ya? Masih sedih?"
Aku mengangguk. Ia menyematkan jemarinya pada jari-jariku. Mengecupnya tanpa mengalihkan pandang dari mataku. Maka kubiarkan saja bening ini menganak sungai di pipi.
Boeing 777-300 yang akan membawa kami menuju King Khalid International Airport, Riyadh siap mengudara. Dari kokpit, sang pilot menyampaikan informasi penerbangan kali ini. Bahasa Inggris dan bahasa Arab terdengar. Doa safar dari perangkat audio pun berkumandang.
Aku mengeratkan genggaman pada tangan Mas Anas. Pengalamanku naik pesawat memang bisa dihitung dengan jari, tapi tetap saja saat take off dan landing menjadi bagian yang menegangkan buatku. Bibirku komat kamit mengulang-ulang bacaan ayat kursi.
"Belum, Ki. Ini nggak langsung take off, taxi dulu. Dari sini ke landasan kan butuh waktu, nggak sesingkat penerbangan dari bandara di daerah. Cengkareng luas lho." Aku mengangguk lagi. Agak malu.
Mas Anas memberitahuku lagi saat pesawat siap take off. Ia pula membantu mengecek sabuk pengaman, juga memastikan posisiku nyaman. Sedang aku, kembali komat-kamit melafalkan ayat kursi. Entah dapat berapa belas atau malah berapa puluh kali, hingga indikator menunjukkan bahwa sabuk pengaman boleh dilepas.
Mas Anas tertawa. Gimana sih? Istri religius gini malah diketawain. Huh!
Hampir satu jam kami di udara, keadaanku mulai menunjukkan gelagat tak baik-baik saja. Perubahan tekanan udara yang cukup signifikan ternyata berpengaruh juga. Dan selanjutnya, penerbangan ini menjadi sebuah siksaan untukku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan Marbot Biasa
Ficción GeneralMeskipun rumahnya di seberang masjid, Syarifa Tazkiya (Azki) hampir tak pernah salat di sana. Hingga suatu hari, ia terpaksa harus mengantarkan keponakannya untuk mengaji di masjid seberang rumahnya. Di sana ia bertemu guru ngaji keponakannya. Azki...
