11. Mas Harits Pulang

6.2K 825 25
                                        

Malam ini Mas Harits akan kembali menginjakkan kaki di tanah air. Ya, Mas Harits, kakak semata wayangku sekaligus papanya Hanafi.

Kami sekeluarga berencana untuk menjemputnya di airport. Pesawat dijadwalkan landing pukul 20.20, dan kami sepakat untuk berangkat seusai salat maghrib.

Kuambil gawaiku, bermaksud meminta izin pada Mas Anas untuk tak mengajar malam ini.

[Assalamualaikum.
Mas, mhn maaf, nanti mlm sy ijin gak ngajar ya. Mau jemput papanya Hanafi. Syukron]

Berjam-jam pesanku tak juga berbalas bahkan hingga asar telah beranjak. Menjelang jam lima barulah balasan dari Mas Anas kuterima.

[Waalaikumussalam.
Maaf, Ki. Gmn kl kamu ngajar dulu? Insya Allah hbs ngajar aku anter nyusul ke bandara]

[Maaf, baru balas, td ada acara]

[Knp? Kan Mas bisa sendiri? Kmrn jg sy ngajar sendiri. Ini jg muridnya kan gak ada 1, Hanafi]

[Gpp, Ki. Kamu ngajar dl ya?]

[Enggak]

Tak ada balasan. Tapi lima menit kemudian,

"Assalamualaikum."

"Lah, kok kaya suara Mas Anas yak?!"

"Waalaikumussalam. Eh, nak Anas. Gimana? Monggo masuk dulu." Terdengar suara ibu. Aku tak keluar, hanya menguping dari balik pintu. Sekali lagi aku bersyukur, kamarku terletak berhadapan dengan ruang tamu.

"Kata Mbak Azki papanya Hanafi mau pulang ya, Bu?"

"Iya, betul. Nanti habis maghrib mau berangkat ke bandara. Azki sudah ijin kan?" suara ibu terdengar bangga dan bahagia.

"Betul, Bu. Sebetulnya saya ke sini juga karena itu. Kalo boleh saya mau minta ijin supaya Mbak Azki bisa ngajar dulu. Nanti sehabis ngajar insya Allah saya antar nyusul ke bandara."

"Dih apa sih maksudnya, rese banget maksa-maksa."

"Oh gitu ya. Ya kalo saya sih nggak apa-apa, gimana Azkinya aja. Soalnya dia nggak pernah keluar berdua sama anak laki-laki selain kakaknya. Apalagi malam-malam. Takutnya dia nggak nyaman." Ibu menjelaskan, lantas memanggilku.

"Ini lho Ki, nak Anas minta kamu ngajar dulu, nanti habis isya diantar ke bandara." Baru juga sampai di depan pintu, ibu sudah menyambutku dengan permintaan Mas Anas.

"Lho, tapi kan bukan mahr...,"

"Mbak Azki bisa kan ya?" sela Mas Anas sebelum aku selesai bicara. Dia memasang wajah memohon. Aku menghela napas.

"Dih, maunya apa sih?"

"Emm, ya udah. Tapi jangan boncengan naik motor ya, naik taksi online aja." Aku menyerah melihat mukanya yang memelas.

"Alhamdulillah. Terima kasih banyak ya, Ki. Eh, Mbak Azki." Ibu mengernyit, memandang kami bergantian. Aku pura-pura tak melihat. Mas Anas menahan tawa, lalu segera berpamitan.

"Marbot satu ini makin gak jelas deh!"

Segera kuketikkan pesan begitu aku masuk ke kamar.

[Apa sih maksudnya? Kmrn aku ngajar sendiri jg oke aja. Manja!]

[*emoji senyum* Maaf, Ki. Gak tau knp, tp feelingku mengatakan kamu hrs ngajar malam ini. Untung Bu Wahid ksh ijin. Alhamdulillah]

[Iya, tp sebenernya hatiku gak ksh ijin. Ini terpaksa!]

Bukan Marbot BiasaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang