[COMPLETE]
[Mix Baku-non Baku] [REVISI]
#4 - daniel (05/11/2021)
#5 - lee taeyong
#55 - taeil (05/11/2021)
#73 - kun (05/11/2021)
#120 - yuta (05/11/2021)
#122 - johnny (05/11/2021)
Menikah dengan orang yang dikenal hanya SATU bulan menjelang menik...
"Lama banget sih" decak Taeyong, berdiri menghampiriku yang berjalan setelah keluar dari lift.
"Siapa yang nyuruh kamu nunggu?"
"Hati <3 " mendengar jawaban Tayong, aku reflek menghentikan langkahku, lalu menatap tajam pada laki-laki yang saat ini berdiri disampingku.
"Udah ayo buruan, kayaknya kamu gampang sensitif kalau laper"
Taeyong menarikku untuk keluar menuju mobil.
Setelah menyusuri jalan selama beberapa menit, Taeyong dan aku masuk ke sebuah kedai mie.
"Malam-malam gini, enaknya makan makanan yang berkuah Ree" Taeyong fokus membaca menu setelah berdiri didepan kasir. "Aku mau kalguksu... kamu mau apa?"
"Samain aja deh"
Setelah memesan, kita duduk dikursi dekat jendela. Aku butuh udara segar, jaga-jaga si Taeyong akan membuat tensiku naik.
"Eh Ree... kamu lulusan Psikologi kan? Bisa ramal aku gak?"
Sebenarnya sering banget ini pertanyaan muncul, tapi entah kenapa kali ini sedikit (banget) membuatku kesal, entah karena pertanyaannya atau orang yang bertanya.
"Kamu pikir aku dukun?" fyi, hobi baruku setelah bertemu Taeyong, mengabaikan pertanyaan malah nanyak balik.
"Diih, gimana sih? Kan psikologi bisa tuh baca-baca perilaku orang"
Taeyong melipat kedua tangan di depan dadanya, menatapku yang duduk di hadapannya, dan tidak lupa dengan senyuman jahil.
"Bukan ngeramal juga dong..."
"Yaudah, aku aja deh yang ngeramal--" aku membalas tatapan Taeyong, kali ini untuk menunggu kata-katanya yang menggantung. "Aku ramal, kita akan berdampingan di pelaminan satu bulan lagi"
Aku tersedak ludahku sendiri, "Uhuukk uhuukk"
"Jangan salting dong Ree... kamu tuh makin gemes kalau lagi salting" ^_^
Taeyong menuangkan air dari teko ke gelas yang sejak tadi berada diujung meja, lalu menyodorkan ke arahku.
Syukurlah tenggorokanku membaik setelah minum.
Aku harusnya tidak kaget dengan pembahasan-pembahasan semacam itu. Karena memang kita dijodohkan dan untuk saat ini hubunganku dengan Daniel terpaksa selesai. Jadi, tidak ada lagi yang menghalangi...
Namun, aku masih dalam proses mencerna keinginan Papa menjodohkanku, sekarang malah membahas pelaminan yang belum ku bayangkan akan seperti apa nanti gaunku, riasanku, berpisah dengan keluarga dan tinggal dengan orang lain.
Sepertinya, detik ini pikiran tentang itu akan mulai menguasai seisi otakku.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.