36. Terdesak

613 55 1
                                        

"Ree, bangun"

Aku membuka mataku saat terdengar suara menyebut namaku dan sebuah tangan mengguncang pelan tubuhku.

"Eh, Daniel. Udah sampe ya?"

Daniel mengangguk.

"Makasih Niel, sorry ngerepotin"

"Gapapa, sesekali bantu mantan meskipun gak mau cerita"

Aku meliriknya sekilas, "Kalau aku cerita, ntar aku baper minta balikan. Repot"

Aku tertawa ringan, namun memudar saat melihat ekspresi Daniel yang datar.

"Maaf, becanda"

"Lain kali becandanya disaring ya, kalau aku termotivasi ngambil kamu dari Taeyong, gimana?"

Aku menelan ludah sebentar, tersentak dengan ucapan Daniel. Mendadak ingat bagaimana perasaan Daniel yang mudah baper.

"Daniel, sekali lagi makasih ya"

Aku melambaikan tangan, keluar dari mobil. Daniel pun pergi.

Saat memasuki ruangan, ku lihat Taeyong sedang duduk di sofa.

"Ngapain kamu disini?"

"Kenapa lama? Bukannya kamu duluan yang pergi dari resto?" Tanya Taeyong tak kalah dingin.

"Terserah aku, bukan urusanmu"

Aku mendaratkan tubuhku di kursi dirut kebanggaan Papa. Tanpa menoleh sedikitpun. Namun bisa ku dengar langkah Taeyong seperti sedang menghampiriku. Benar, saat ini Taeyong memutar kursi yang ku duduki hingga menghadapnya.

Taeyong dalam posisi menunduk hingga wajahnya sejajar dengan wajahku. Kedua tangannya sebagai tumpu berpegangan pada sisi kursi kanan-kiri. Matanya lurus pada wajahku, wajahnya pun memerah menahan emosi.

"Satu, kamu gak bilang kalau ngajak Jennie ketemuan. Dua, kamu menampar Jennie apalagi itu tempat umum. Ketiga kamu kesini dianter Daniel, Empat Kamu telat balik, So dari mana aja sama Daniel? Ternyata selama ini masih komunikasi?"

"Dari mana kamu tau aku dianter Daniel?"

Taeyong tersenyum sinis "Apa yang aku gak tau, Ree?"

"Oh iya, aku lupa kamu nyuruh orang buat jadi stalker aku. Segitu gak percayanya sama aku?"

Aku memberanikan diri membalas tatapan Taeyong.

"Kalau kamu dilepas gitu aja, kamu bakal main-main di belakang aku"

"AKU? Main-main? Aku atau KAMU, Lee Taeyong?"

"Aku gak pernah khianatin kamu, Ree"

"Kamu lupa? Kamu menyembunyikan semua tentang Jennie, termasuk selalu menemuinya tanpa aku tau?"

Taeyong mengacak rambutnya kasar, "Sudah berapa kali aku bilang? Jennie cuma Sahabat aku. Gak lebih"

"Oh ya? Tapi kayaknya kamu lebih memprioritaskan Jennie dari pada aku. Bahkan kamu tega tinggalin aku saat hineymoon demi Jennie, SE ENGGAK PENTING ITU AKU SEBAGAI ISTRI KAMU"

Aku berdiri, mendekat pada Taeyong dengan menunjuk-nunjuk Taeyong di kalimat terakhirku.

"Karena Jennie dan anaknya butuh Aku, Reena"

Jawab Taeyong dengan nada frustasi.

Aku merasa perutku geli mendengar ucapannya.

"Kasih aku penjelasan kenapa harus Kamu yang mereka butuhkan?"

"Reena, denger. Jennie yatim piatu, anaknya gak punya sosok Ayah. Jadi aku yang dianggap Ayah sama anak Jennie. Kasian mereka"

"Kemana Ayah dari anak itu? Kenapa harus kamu yanh jadi Ayah buat dia?"

Perjodohan - Lee Taeyong [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang