Special Chapter "Sending to Happiness"

178 13 0
                                        

Taeyong berlari keluar ruangannya, mengabaikan setiap sapaan orang-orang. Sempat sepatunya lepas sebelah, namun berhasil ia pasang kembali dan melanjutkan langkah besarnya.

Saat pintu lift terbuka, dihadapannya terdapat Jeno dengan membuka kaca jendela mobilnya.

"Naik bang, gue harus memastikan lo selamat sampai Rumah Sakit" tanpa membalas ucapan Jeno, Taeyong duduk disebelahnya.

"Jen, cepetan Jen" sedari tadi, tangan dan kaki Taeyong tak berhenti bergerak, keringat didahinya jelas terlihat, AC mobilpun tak dapat mengeringkannya.

"Sabar bang, ini macet. Tenang, lo atur nafas lo dulu deh"

"Gak bisa tenang, setelah dapet telfon dari Papa gue rasanya pengen terbang, pengen tau keadaan Reena"

"Iya bang, gue ngerti. Tapi ini beneran macet, kayaknya lagi ada konser Kpop deh di Stadion depan"

"Duhhh, kenapa konser sekarang sih? Gak liat gue buru-buru apa?" Decak Taeyong. Jeno yang mendengar hanya menggelengkan kepalanya.

45 menit terlewati. Posisi Jeno dan Taeyong belum keluar dari kemacetan.

"Jen, apa gue jalan kaki aja ya? Ini baru setengah jalan" Taeyong selalu mengecek handphone dan jam tangannya.

"Hah? Janganlah bang, ntar gue yang kena marah Papa sama Kak Reena kalau lo kenapa-napa"

"Udaahhh, aman! Gue turun ya, lagian RS nya tinggal 2km lagi kan? Dari pada gue nunggu 1 jam lagi buat sampe, keburu istri gue kenapa-napa ntar" Tanpa persetujuan Jeno, Taeyong membuka pintu mobil dan langsung berlari membelah kemacetan dan kerumunan orang-orang yang akan memasuki stadion.

"Misi mbak, misiiii ya... misiii saya buru-buru" gumam Taeyong saat mau tak mau ia harus berdesakan dengan pejalan kaki yang lain.

"Santai dong mas, kita juga buru-buru mau ketemu suami kita" celetuk mbak-mbak berbaju hijau neon berbando kelinci.

Taeyong tak mengubrisnya, sempat ingin membalas namun ia urungkan karena prioritasnya saat ini adalah sampai di Rumah Sakit dengan segera.

Taeyong terus berlari, tak peduli kakinya yang mulai sakit dan mengharuskan membuka sepatu pantofel lalu membuangnya ke tempat sampah terdekat. "Gak guna sepatu mahal, dibuat lari malah bikin sakit"

Taeyong bak kesurupan kuda lombok, larinya semakin kencang setelah alas kakinya tak terpasang lagi dan jasnya ia sampirkan di tangan kirinya. Hingga akhirnya ia sampai didepan Rumah Sakit, dan menuju resepsionis.

"Mbak... huh..huhhh... ruaahngg... bershhhaalinnn" Semoga mbak-mbak resepsionis memahami kalimat Taeyong, meskipun tersendat karena ngos-ngosan.

"Atas nama siapa, Bapak?"

"Junghhh... Reehhhnnaaa"

"Bapak ke kanan aja, nanti naik lift ke lantai 5, terus kekiri sampai ketemu ruangan nomor 3"

Taeyong hanya mengacungkan jempolnya, dan langsung menuju lift. Ia sedang diburu waktu, 1 detik sangat berharga baginya. Sesampainya dilantai 5, ia langsung menemukan Papa dan Mama mertuanya sedang duduk didepan ruangan.

"Pah... Mah..." Taeyong menghampiri.

"Taeyong..." Panggil Tiffany.

"Gimana keadaan Reena, Ma?"

"Taeyong, yang sabar ya..." ucap Yunho, sambil memeluk sendu Taeyong.

"Pa, Reena baik-baik aja kan?" Air mata Taeyong yang sedari tadi ditahannya, harus terpecah. Dalam otaknya adalah istrinya tidak dalam kondisi yang baik, atau bahkan kemungkinan buruk yang sejak dalam perjalanan menghantui pikirannya.

"Reena baik-baik aja, tapi..."

"TAPI KENAPA PA??" Kesabaran Taeyong habis, secara tidak sadar membentak Papa mertuanya.

"Anak kamu..."

"Kenapa anak aku Pa? Kenapaaaaa????" Taeyong benar-benar dibuat lemas sekujur tubuhnya. Yang ia fikirkan bukan kemungkinan terburuk pada Anaknya, tapi bagaimana jika Reena harus menanggung kesedihan karena anak mereka dalam keadaan buruk?

"Anak kamu... Perempuan, hehe" ucap Yunho yang langsung merubah wajah sedihnya menjadi tengil.

Bruukkkk! Taeyong langsung ambruk dilantai, tangannya terkepal ingin sekali (saat itu juga) memukul Papa Mertuanya, jika itu bukanlah sebuah dosa.

Tiffany dan Yunho kompak tertawa melihat reaksi Taeyong, tanpa sedikitpun rasa ingin membantu Taeyong untuk bangun.

"Yess!! Jangan lupa, kamu kalah taruhan. Papa tunggu Porsche 911 warna merahnya, hehehe. Lagian gak percaya sih pas Papa bilang Reena hamil anak perempuan, tanpa alat canggih buatan negara maju juga kalah sama yang udah pengalaman jaga istri hamil anak cowok-cewek hahahaha" Yunho begitu gembira, ada kegembiraan yang berlipat dalam hatinya.

—————————————————————
"Sayang..." Mendengar suara itu, Reena tersenyum. Matanya masih sayu dan tubuhnya masih terlihat lemah, namun tatapannya seolah menyuruh sang suami untuk segera berada disampingnya.

"Sayang, kamu baik-baik aja kan?" Taeyong mengusap kepala Reena begitu lembut, sambil tangan kanannya juga menggemgang erat tangan Reena.

"I'm okay" jawab Reena begitu lirih.

"Maafin aku ya, aku gak bisa nemenin kamu pas bersalin. Tadi macet banget ada konser korea koreaan gak jelas ijo-ijo kayak rumput" Taeyong kembali mengadu bak anak kecil yang begitu manja pada ibunya. Reena hanya membalasnya dengan senyuman.

"Tapi kamu hebat, bisa salinan dengan normal. Aku bangga banget sama kamu. Kamu makin keren, makin cantik, anak kita kalah cantik sama kamu. Pokoknya kamu sempurna buat aku" setitik dua titik, air mata Taeyong menetes. Ungkapan pendukung jika ia benar-benar bersyukur takdir mempertemukan dengan Reena, perempuan yang menurutnya adalah keajaiban, tujuan dan kebahagiaan yang melengkapi hidupnya.

Begitulah pada akhirnya, dua insan tersebut merayakan sebuah bentuk syukur. Meskipun hidup tidak selalu mulus, namun kita akan sampai pada waktunya menikmati dengan tulus.

—sekian.

—————————————————————

Dear Lee Taeyong,Aku tulis ini dengan tulus meskipun dengan bahasa indonesia

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Dear Lee Taeyong,
Aku tulis ini dengan tulus meskipun dengan bahasa indonesia.
Pergi dengan sehat dan kembali dengan selamat. Semoga kewajibanmu dalam menjadi seorang warga negara yang baik akan membawa hal-hal baik yang akan melindungimu terus tak terhingga oleh waktu, artinya akan banyak yang merindukanmu, mencintaimu dan melindungimu sampai kapanpun.
Terimakasih, sudah menjadi leader terbaik, musisi yang luar biasa menginspirasi, dan pribadi yang menjadi figur.
Dan untuk TyongF, ku tulis special chapter yang gak seberapa ini mungkin nanti akan dibaca atau mengisi sedikit waktu luang kalian.
Maaf jika ada yang kurang berkenan, dan semoga bisa diambil hal positifnya aja ya....

Perjodohan - Lee Taeyong [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang