14. Dua Kepingan

534 51 1
                                        

"Gimana kabarnya, Ree?"

Tanya Daniel, setelah kita berdua duduk dibangku pojok kafe yang penuh kenangan ini.

"Baik, kamu gimana Niel?"

"Aku juga baik..." Daniel tersenyum, rasanya rindu momen-momen seperti ini duduk berdua, curhat satu sama lain, kadang kala membahas bagaimana 5 sampai 10 tahun ke depan hubungan kita. Ternyata memang angan-angan seperti itu hanya sebatas retorika.

"Mama nanya kamu, Ree" Sambung Daniel.

"Oh ya? Gimana kabar Tante Dara?"

"Baik, dan masih sibuk seperti biasa. Tanpa aku jelasin kamu tau lah bagaimana kegiatan Mama selama 24/7... blablabla"

Begitu selanjutnya Daniel seperti biasa akan banyak cerita tentang Mamanya yang dia cintai, namun tidak memiliki waktu untuk dirinya. Daniel mungkin telah dewasa, namun saat ini Mamanya adalah satu-satunya keluarga yang dia punya. Akupun tak heran jika beberapa waktu Daniel akan membatalkan pertemuan kita demi sekedar menjemput Mamanya di Bandara atau Quality Time selama belum disibukkan kembali dengan urusannya diluar negeri.

"Ree... Makasih ya udah mau dengerin curhatanku dan Maaf lagi-lagi aku banyak ngomong tentang Mama dan kehidupanku pribadi"

Saat ini kita berada di mobil dalam perjalanan pulang, Daniel menawarkan untuk mengantarku sampai rumah.

"Santai aja Niel, lain kali juga kalau mau curhat lagi gak papa hubungin aku aja"

Iya, aku tau bagaimana kehidupan dan keluarga Daniel. Dulu, aku akan menjadi pendengar dan tempat curhatnya paling update. Daniel anak Tunggal dengan Papanya yang meninggal dan Mamanya kerja sebagai dibidang ekspor barang ritel yang mengharuskan banyak waktunya diluar rumah bahkan harus keluar negeri. Begitulah Daniel membutuhkan seseorang untuk menemani atau mendengarkan setiap keluh kesahnya—katanya.

"Ree..."

"Hm?"

"Aku masih sayang sama kamu"

Aku tertegun, rasanya ini yang selalu ku khawatirkan jika aku bertemu lagi dengan Daniel.

"Asal kamu tau, aku juga masih sayang, Niel"

Kata-kata itu hanya melesat didalam hati, mulut dan suaraku rasanya tertahan untuk mengucapkan itu setelah melihat jari manisku terlingkar sebuah cincin semalam.

"Kamu tau Niel? Apa yang paling menyesakkan setelah kita putus?" Pandanganku sengaja ku fokuskan pada jalan didepanku, aku tak mau Daniel tau jika aku menahan tangis.

"Kamu menjadi calon istri orang?" tebak Daniel.

"Bukan, tapi pengakuan kamu barusan".

Kemudian hening, hingga sampai di depan rumah.

"Makasih, Niel. Mampir dulu yuk?"

"Engga deh Ree... Aku langsung balik aja"

"Oh oke, hati-hati"
Aku melambaikan tangan hingga mobil Daniel semakij menjauh.

_ _ _ _ _ _ _

Beberapa hari setelah keberangkatan Taeyong dan pertemuanku dengan Daniel. Aktivitasku kembali normal, oh tidak... beberapa hal yang ku lakukan tentang Daniel tergantikan dengan hal-hal yang berhubungan dengan Taeyong. Mungkin lebih tepatnya New Normal.

Seperti saat ini, sepulang kantor dan masih dengan baju kantor Taeyong mulai meninggalkan banyak panggilan. Tentu ku abaikan sejak tadi pagi karena beberapa hal harus ku kerjakan.

"Halo" Sapaku, setelah panggilan ke 108-nya ku terima.

"Halo Ree? kenapa baru angkat? Hampir aja ku telfon Papa Yunho--"

Perjodohan - Lee Taeyong [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang